Exhausted Love

“When you love someone, you’ll do anything
You’ll do anything, that you can’t explain
You’ll shoot the moon, put out the sun
When you love someone” (Taken from Bryan Adams’s song)

Pernah merasakan jatuh cinta ‘kan? Perasaan kita sepertinya melambung tinggi. Semua kelihatan indah dan menyenangkan. Apapun juga bisa kita hadapi dan semua masalah terlihat mudah. Tapi, perasaan jatuh cinta yang terlalu meresap tanpa bisa kita kontrol, akan menimbulkan efek negatif yang akhirnya merugikan kita dan pasangan kita.

Tiba-tiba kamu merasa resah tentang keberadaan dia, khawatir apa saja yang dia lakukan, curiga dengan orang-orang yang berada didekatnya, marah karena kamu tidak diperhatikan olehnya, menuntut kehadirannya saat ini juga, bla bla bla.

Kalau kita tidak bisa menguasainya, jatuh cinta yang seharusnya indah itu bisa berubah menjadi perasaan negatif yang selalu ingin memiliki pasangan kita. Perasaan itu berubah menjadi kecurigaan terhadap dia, sikap posesif yang berlebihan, bahkan muncul perasaan cemburu yang tidak jelas penyebabnya.

I called it Exhausted Love. Cinta yang membuat kamu kelelahan. Cinta yang menguras seluruh enerji, pikiran dan tenaga kamu. Cinta yang hanya memuaskan ke-egoan kamu tanpa perduli akan perasaan pasangan kamu. Cinta yang pada akhirnya hanya membuat kamu stress dan merasa ditinggalkan sendirian.

Mari lihat apa penyebab dari itu semua…
Hubungan antar manusia didasarkan oleh kepercayaan. Kepercayaan kamu kepada diri kamu sendiri akan mempengaruhi kepercayaan kita akan orang lain. Jika kepercayaan itu hilang, maka muncullah kecurigaan yang tidak beralasan. Kecurigaan ini jika tidak dikomunikasikan, hanya akan berkembang menjadi ketakutan-ketakutan. Dan ketakutan itu akan mempengaruhi sikap kita terhadap dia. Kita mulai mengekang dia, dan mengontrol kehidupannya. Segala sesuatu yang tadinya indah, mulai menjadi mimpi buruk, entah buat kamu, entah buat dia. Terlalu banyak hubungan yang telah rusak oleh karena hal ini.

Kembali ke arti cinta itu seharusnya…
“Kasih… (saya lebih senang menggunakan kata “Kasih” daripada “Cinta”) menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu”**
Segala sesuatu berarti SEGALA SESUATU.

Ia menahan, percaya, berharap dan sabar menanggung.
Itulah kasih yang sebenarnya.
Kasih yang tidak menuntut, tidak mementingkan kepuasan diri sendiri.

Kasih yang sejati adalah kasih yang teruji oleh waktu, oleh setiap proses yang datang. Ia tidak instant.

Ketika kita belajar mempercayai pasangan kita, ‘melepaskan’ dia diluar dengan iman kita, dan mengendalikan diri kita, segala efek negatif itu seharusnya tidak perlu kita rasakan. Kita bisa menguasai pikiran, hati dan tindakan kita. Belajarlah mempercayai dia sebagai seseorang yang dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Belajar mempercayai kuasa Tuhan yang selalu menjaganya, dan pandanglah diri kamu sebagai seseorang yang berharga dan layak untuk dia perjuangkan. Karena ketika kamu merubah cara pandang kamu terhadap diri kamu, segala ketakutan tidak akan menghalangi kasih kamu terhadap diri kamu, dan juga… dia.

Be happy and be faithful…

Xxo,

Dea

{a post from April 14, 2007}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s