Tangisan Alam Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau berkisar 17.508 pulau. Terdiri dari 33 provinsi dan 1 daerah administratif khusus. Indonesia kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah. Dari luapan air segar yang banyak terdapat di sungai-sungai, hingga hijaunya pepohonan yang membantu mensuplai oksigen kepada mahluk hidup yang menghuni bumi Nusantara tercinta ini. Namun 5 pulau besar dan ratusan pulau kecil yang berada di Indonesia, rasanya seperti tidak tergenggam dengan baik. Banyak beberapa area yang terabaikan oleh karena sulitnya faktor infrastruktur dan pembangunan yang kurang merata. Tapi entah mengapa, di tempat-tempat seperti itu malah tercipta keseimbangan lingkungan yang lebih baik. Dimana semua mahluk hidup bisa bernafas dengan sempurna, dimana air tawar masih menawarkan kondisi terbaiknya, dimana hijaunya dedaunan terlihat begitu segar dengan embun pagi yang menaungi setiap helai lembar dedaunan. Pulau-pulau terkecil di negeri ini, malah mungkin menjadi tempat terbahagia bagi para mahluk hidup.

DeaSihotang.com-84

Ini salah satu tempat yang begitu indah di tanah Indonesia, terletak di Pantai Bara, Sulawesi Selatan…

 

Mengapa begitu?

Saya adalah seorang penduduk dari kota tersibuk di Indonesia. Namanya kota Jakarta, yang sebelumnya bernama Batavia, lalu Djakarta, lalu Jakarta. Kota tua ini seakan mulai tertatih-tatih untuk bertahan hidup selang lamanya waktu berjalan. Ketertatihan tersebut bukan melulu karena waktu, melainkan karena para pelaku kehidupan di kota ini mulai tidak mengerti akan artinya melindungi tempat mereka tinggal untuk generasi berikutnya. Sifat konsumtif dan ketidakperdulian mulai melekat semakin kuat di masing-masing pribadi yang hanya melihat kota ini dari segi waktu sementara, saat ini saja. Dimana mereka berpikir hidup masih tergolong aman dan layak. Mereka tidak perduli untuk memikirkan lebih lanjut bagaimana alam Indonesia di masa-masa berikutnya. Muncullah sifat pengabaian. Pengabaian akan tangisan kota tempat kita mencari makan sehari-hari dan bernaung dari panasnya matahari dan dinginnya hujan. Pengabaian akan raungan kota yang tanahnya semakin menurun setiap tahunnya karena potensi air yang berkurang, pengabaian akan isakan kota yang lahan hijaunya dijajah tergantikan oleh abu-abunya beton dan kilatan kaca. Kota ini menangis, namun penduduknya tertidur.

DeaSihotang.com-89

DeaSihotang.com-90

Bangunan-bangunan bertingkat di kota besar seperti Jakarta, menggantikan posisi tanah sebagai penyimpan air tawar.

 

Tangisan tersebut mulai menunjukkan suaranya, ketika banjir besar datang berkunjung setiap tahun. Awalnya kecurigaan terbesar adalah dikarenakan faktor masyarakat yang rajin membuang sampah sembarangan. Namun banyak juga faktor lain yang membuat tangisan kota ini semakin ramai terdengar, seperti tertutupnya tanah lapang peresap air, digantikan dengan pembangunan beton demi beton yang terus menerus. Berubahnya fungsi drainase di tengah perkotaan, dari sebelumnya tempat aliran air, menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat. Masalah yang awalnya dianggap sepele, mulai membesar dan menjadi pelik. Jakarta menangis, dan bukan hanya Jakarta, kota-kota lainnya di muka bumi Indonesia ini pun mulai menangis satu demi satu. Tahukah kamu siapa yang tidak menangis? Mereka yang dianggap tidak dibangun, mereka yang dianggap jauh dari pusat perkotaan, mereka yang dianggap pulau kecil dan tidak berpendidikan, mereka yang mempertahankan lingkungannya dengan sepenuh hati, menjaga agar pohonnya tetap tumbuh riang menjulang ke angkasa, menjaga agar airnya tetap bersih tidak tercemari sampah sisa manusia, menjaga agar udaranya tidak terkotori oleh mesin beroda empat yang seringnya telat membayar pajak kendaraan, mereka yang menjaga agar daerahnya tidak dipenuhi oleh luapan bangunan bertingkat 30 dengan kaca perak yang memantulkan sinar matahari dengan hebatnya, mereka yang tidak tau apa itu mall, apa itu ipad, apa itu social media, apa itu instagram. Merekalah yang tidak ikut menangis, ketika sebagian tempat di pusat kota ini menangis keras karena luapan banjir besar yang selalu datang.

DeaSihotang.com-91

Anak-anak kecil yang riang gembira bermain sepeda dan bersenda gurau dengan teman-temannya di pulau Selayar, Sulawesi Selatan.

 

Saya adalah seorang yang suka berjalan-jalan. Menaiki gunung, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, menikmati maha karya alam ciptaan Tuhan. Saya belajar menghargai hidup dari ritme perjalanan demi perjalanan yang telah dan akan saya lakukan. Semakin saya berkeliling bumi Indonesia, semakin saya menyadari, betapa miskinnya kita yang tinggal di pusat negeri dibandingkan dengan mereka yang berada ratusan kilometer dari kota ini. Berjalan-jalan atau istilah kerennya traveling juga akhir-akhir ini menjadi trend yang cukup populer di kalangan anak muda Indonesia, bahkan dunia. Namun satu hal yang selalu saya sayangkan dari sikap para traveller, adalah bagaimana mereka tidak menghargai lingkungan yang ingin mereka lihat. Rasanya terlalu sering saya melihat bagaimana sebuah tempat indah menjadi tidak indah karena berserakannya sampah-sampah yang di buang sembarangan. Ah ya, itu dari mereka yang mengatakan dirinya para petualang. Esensi dasar seorang petualang pun terabaikan, “Collect moments, leave nothing”.

DeaSihotang.com-97

Plastik pink diatas adalah sampah yang kami bawa kembali setelah selesai hiking gunung Rakutak, Bandung Selatan, “a real traveler take moments, leaves nothing.”

 

Luapan emosi saya akan tangisan lingkungan ini akhirnya dapat tersalurkan pada tempat yang tepat. WWFsebagai salah satu organisasi internasional yang perduli akan lingkungan, bekerjasama dengan BlogDetik, mengadakan lomba menulis mengenai lingkungan bagi para blogger dengan tema #IngatLingkungan. Betapa hebatnya ide ini, bayangkan ratusan bahkan ribuan peserta akan berlomba-lomba menorehkan kata demi kata mengenai betapa indahnya lingkungan kita dan betapa perlunya menjaga lingkungan. Semoga dengan begitu, ratusan bahkan ribuan orang tersebut akan tergugah perasaannya dan membuat mereka mengurungkan niatnya ketika tangan kecil mereka hendak melempar sebotol plastik air minum di tanah lapang gunung Semeru, atau ketika mereka hendak meninggalkan sebuah plastik pembungkus roti yang telah mengenyangkan perut mereka di Taman Nasional Baluran.

DeaSihotang.com-92

DeaSihotang.com-93

Rasanya hati terkoyak, ketika keindahan pulau Selayar terusak timbunan sampah hasil “export” masyarakat pulau Jawa dan Kalimantan. Such a nightmare!

DeaSihotang.com-94

Tidak ada yang menggembirakan dari gambar tumpukan sampah berserakan yang dipenuhi monyet-monyet liar ini di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

DeaSihotang.com-95

Tumpukan sampah terlihat di pulau Seribu, DKI Jakarta, sampah siapakah ini?

 

Tangisan Jakarta mungkin juga akan berkurang, walau tidak akan mungkin bisa dalam tempo yang singkat, jika para penguasa negeri ini, para petinggi yang paham akan jalannya peraturan, menjalankan peraturan dengan benar. Ketika tata kelola kota betul-betul menata kelola kotanya dengan benar. Ketika lingkungan yang menjadi pusat perhatian nomor satu para petinggi yang mengatakan dirinya pemimpin negeri. Ketika sikap keras peraturan dipaksakan untuk mencegah ambisi luapan pembangunan yang tidak terarah dan membebani lingkungan tempat kita tinggal. Ketika para pemimpin negeri berani berkata tidak terhadap rayuan para pengusaha mobil dan motor murah yang membuat polusi di negeri ini semakin meningkat. Mungkin ketika para penguasa negeri ini menjalankan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat ketika kami memilih mereka dengan sebaik-baiknya tanpa melihat kepentingan individu atau golongan, mungkin saat itu tangisan alam Indonesia akan berkurang. Pernah dengar tentang asap pekat yang memenuhi kota Riau bahkan sekarang merajalela ke kota-kota tetangga? Bayangkan tangisan para burung yang kehilangan tempat mereka biasa berpijak sambil menikmati sinar mentari, bayangkan tangisan pepohonan rindang yang tersakiti oleh karena terjangan api yang berkobar, sesaknya manusia yang memungkinkan mereka memperoleh oleh-oleh dalam jangka panjang, yaitu pernafasan yang rusak dan paru-paru yang sakit.

DeaSihotang.com-96

Alam tidak hanya merupakan tempat perlindungan bagi hewan dan tumbuhan, bagi manusia juga…

DeaSihotang.com-103

Rusaknya keseimbangan alam karena kebakaran yang terjadi di gunung Papandayan, Garut.

DeaSihotang.com-104

Alangkah indahnya jika manusia, tumbuhan dan hewan bisa menikmati alam ini dengan damai…

 

Manusia dan alam tidak akan bisa terpisahkan. Manusia tidak ada untuk alam, namun alam lah yang ada untuk manusia. Tindakan abusive terhadap alam dan lingkungan, tidak akan pernah menguntungkan manusia dan mahluk hidup lainnya dari segi apapun, namun akan mendatangkan isak tangis yang lebih keras lagi di kemudian hari. Keseimbangan lingkungan perlu dijaga demi keberadaan bumi Indonesia di puluhan tahun mendatang.

 

Saya adalah seorang warga negara Indonesia yang mencintai negeri ini. Dan saya yakin, bukan hanya saya saja, banyak pribadi yang mencintai negeri ini setulus hati. Harapan kami akan negeri ini terus menerus ada walau apapun yang telah terjadi. Para bloggers pun terus menerus menuliskan akan indahnya negeri ini dengan harapan semakin banyaknya masyarakat dunia yang mengetahui keindahan negeri ini dan terkagum-kagum. Pemilu 2014 adalah salah satu sarana untuk harapan tersebut terurai menjadi sebuah kenyataan. Jikalau nanti pemimpin yang duduk di kursi nomor satu di pemerintahan negeri ini memilih untuk mencondongkan hatinya untuk mendengar tangisan lingkungan Indonesia dan berusaha memperbaikinya, alangkah hijaunya kota Jakarta dan kota-kota lainnya di bumi Indonesia kemudian hari.

 

Indonesia adalah negara kepulauan indah yang terletak tepat di garis equator sehingga memiliki iklim tropis yang panas, merupakan jambrud khatulistiwa dunia dan merupakan pemiliki begitu banyak biodiversity hewan dan tumbuhan setelah Brazil. Negara yang memiliki luas 1,904,569 km2 ini memiliki begitu banyak ragam species burung, harimau, gajah, badak dan orangutan. Indonesia merupakan salah satu negara coral triangle yang memiliki keragaman ikan dan terumbu karang terbesar di dunia, dengan lebih dari 1.650 species hanya dari kawasan timur Indonesia saja. Betapa kayanya kita. Betapa pentingnya menjaga agar negara kita yang kaya lingkungan ini tetap memiliki lingkungan yang terjaga.

DeaSihotang.com-98

Indahnya alam Indonesia, Gunung Rakutak – Bandung Selatan.

DeaSihotang.com-99

Indahnya alam Indonesia, Taman Nasional Halimun, Jawa Barat.

DeaSihotang.com-100

Indahnya alam Indonesia, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

DeaSihotang.com-101

Indahnya alam Indonesia, Rammang – Rammang, Sulawesi Selatan.

DeaSihotang.com-102

Indahnya alam Indonesia, Pantai Ara, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Alangkah bangganya kita sebagai warga negara Indonesia, jika memiliki alam indah yang terjaga dengan baik. Alangkah banyaknya devisa yang masuk untuk kepentingan kemajuan rakyat Indonesia dari kedatangan para turis lokal dan dunia yang bersukaria menjejakkan kakinya demi menikmati alam Indonesia. Alangkah semakin bahagia dan sehatnya kita sebagai anak bangsa dengan adanya asupan oksigen yang cukup, udara yang segar, air yang jernih, pemandangan hijau pepohanan yang menyegarkan mata,  kicauan burung dan raungan hewan yang berterima kasih akan inisiatif manusia dalam menjaga lingkungan mereka, serta lukisan ratusan bintang di langit malam yang dapat terlihat dengan jelas, tidak lagi malu-malu tersembunyi dari pekatnya asap polusi. Alam yang sehat menciptakan manusia yang sehat dan berbahagia, jauh dari sakit penyakit.

DeaSihotang.com-42

Kami cinta alam Indonesia… Kami siap untuk menjaganya agar tetap indah…

 

I have a dream, a dream of a greener Indonesia.

Salam,

Dea Sihotang

Copyright Photo all by Dea Sihotang (Personal Collection)

Disclaimer! Isi tulisan di luar tanggung jawab WWF Indonesia dan BLOGdetik.

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s