Waktu Terhenti di Karimun Jawa

Artikel ini merupakan artikel yang saya submit dalam kompetisi menulis Telkomselflash #GetStranded dan memenangkan hadiah trip seminggu ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Sengaja saya upload di blog ini, sebagai record saya for the future. Enjoy! πŸ™‚

PS : Later I will write about my journey in Karimun Jawa in English version πŸ˜‰

Karimun-Jawa-Indonesia (2)

Traveling merupakan salah satu kegiatan yang amat saya sukai. Bahkan cenderung saya nanti-nantikan. Biasanya beberapa bulan sebelumnya, saya akan mengatur hendak kemana-kemana saja jadwal perjalanan saya menjelajah bumi Indonesia. Kali ini, saya dan beberapa teman dari kampus bersepakat hendak mengunjungi salah satu pulau yang banyak direkomendasikan oleh para traveler lain karena keindahannya. Pulau Karimun di Jepara adalah tujuan kami kali ini.

 

Seharusnya rasa senang yang muncul, ketika perjalanan ke pulau ini akan dimulai. Namun apa daya, perasaan hati cukup kacau saat itu sehubungan dengan putusnya hubungan saya dengan sang pacar. Hampir saja saya membatalkan niat untuk bepergian karena terlalu larut dalam rasa sedih. Namun ucapan seorang teman bahwa traveling also helps us to forget about our problems, membuat saya berpikir, mungkin perjalanan kali ini akan memberikan hasil positif dan merubah suasana hati saya menjadi lebih baik.

 

Berangkatlah saya malam itu bersama 6 orang teman lainnya. Perjalanan menuju Semarang dilakukan dengan menggunakan kereta Argo Anggrek Bromo dari stasiun Gambir. Sengaja dipilih keberangkatan malam, sehingga kami bisa mencapai stasiun Semarang Tawang pada dini hari dan langsung menuju Jepara menggunakan mobil sewaan. Tepat seperti waktu yang dijadwalkan, kereta pun berangkat meninggalkan ibu kota dan tiba di stasiun tujuan 10 menit lebih awal dari jadwal ketibaan.

Karimun-Jawa-Indonesia (6)Teman seperjalanan

 

Ini merupakan perjalanan pertama saya ke kota Semarang. Ini pun merupakan pengalaman pertama saya menggunakan jasa kereta api ke kota tua ini. Saya terkagum melihat bagusnya pelayanan yang diberikan oleh perusahaan kereta api. Dari awal kami masuk ke dalam gerbong kereta, para penjaga beserta dua pria yang menggunakan seragam security, melakukan pemeriksaan tiket penumpang satu persatu. Mereka mencatat dengan seksama tujuan dari para penumpang tersebut.

 

Tadinya saya tidak mengerti mengapa mereka harus mencatatnya. Tetapi ternyata, tujuan akhir kereta Argo Anggrek Bromo adalah ke kota Surabaya, sehingga mereka yang turun di Semarang akan diinformasikan oleh para crew kereta. Tidak tanggung-tanggung, crew kereta akan mendatangi satu persatu bangku penumpang menurut catatan dan membangunkan mereka sebelum kereta berhenti di stasiun Semarang Tawang.

 

Waktu sudah sangat larut saat itu, membuat hampir seluruh penumpang kereta tertidur pulas. Karena saya terbangun beberapa saat sebelum petugas menghampiri untuk membangunkan, maka saya bisa mengamati reaksi para penumpang yang dibangunkan dari tidur pulasnya. Salah satunya teman seperjalanan saya yang kaget dan terlonjak dari tidurnya, hampir saja dia menepiskan tangan si petugas dengan kasar ketika dibangunkan dengan hati-hati. Saya pun tersenyum simpul melihat kejadian tersebut.

 

Ketika tiba di dermaga Jepara pada pukul 7 pagi, setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Semarang Tawang dengan tertidur pulas selama perjalanan tanpa perduli hentakan keras roda mobil dari rusaknya jalanan yang ada, kami pun harus menunggu sekitar 7 jam lagi sebelum akhirnya kapal ferry cepat berangkat menuju pulau Karimun. Oh, perjalanan hari pertama yang sangat melelahkan. Untungnya warung bu Dyah yang terletak di dermaga Jepara dapat menampung keberadaan kami, sehingga kami pun bisa kembali tidur-tidur ayam setelah sarapan atau bermain dengan smart phone kami sambil menunggu waktu makan siang. Kapal ferry hanya dijadwalkan pergi 1 kali hari itu, yaitu pukul 2 siang. Memang sebaiknya disarankan untuk berwisata kuliner terlebih dahulu di kota Semarang sambil menunggu waktu keberangkatan kapal ferry. Namun mobil yang kami sewa hanya mempunyai batas waktu 6 jam, sehingga tiba di dermaga Jepara merupakan prioritas kami.

Karimun-Jawa-Indonesia (7)Penampakan tempat duduk dalam ferry, cukup nyaman!

 

Kapal ferry express ternyata memiliki desain bangku seperti pesawat. Kursi penumpang berwarna merah menyala, berukuran cukup besar, hanya saja jarak antar baris kursi demi kursi sangat sempit. Mungkin untuk memaksimalkan jumlah penumpang. Ketika membeli tiket, kami pun memperoleh nomor bangku sehingga seharusnya tidak perlu khawatir akan ada yang merebut bangku-bangku tersebut. Namun dasarnya sifat masyarakat Indonesia yang kurang teratur, banyak penumpang yang coba-coba tidak mengindahkan nomor bangku yang ada dan duduk sesuka hati mereka. Petugas kapal ferry pun harus turun tangan untuk bersikap tegas mengatasi permasalahan tersebut. Saat kapal ferry mulai berjalan, rasa panaspun mulai muncul tak tertahankan karena pengapnya kondisi kapal. Salah satu hal menyedihkan yang cenderung dilakukan para pengguna fasilitas transportasi umum adalah membuang sampah sembarangan. Banyak sekali sampah bekas buah duku yang tergeletak begitu saja di koridor kapal. Rasanya gemas ingin menyodorkan plastik kresek kepada entah siapa yang telah memakan duku itu dan menyuruhnya untuk memunguti hasil karyanya yang berserakan di lantai kapal.

 

Kami tiba di dermaga pulau Karimun dan langsung terkagum-kagum akan jernihnya air laut di sekitar dermaga. Jika di dermaga saja air sudah begitu jernih, apalagi nun jauh di pulau-pulau kecil sana. Rasa antusias pun memenuhi hati kami. Setelah kami di drop di home stay Della, kami pun bersiap-siap untuk menyambut pemandangan indah terbenamnya matahari di pulau Karimun yang tersohor. Karena waktu sudah mencapai pukul 5 sore.

Karimun-Jawa-Indonesia (8)Pemandangan sekitar Dermaga.

 

Listrik baru menyala pukul 6 sore nanti. Kami pun berbersih diri seadanya sebelum berjalan kaki menuju lapangan sepak bola yang telah berubah fungsi setiap malamnya menjadi sebuah pasar malam dan restaurant seafood kaki lima dengan harga murah meriah. Menu andalan yang layak di coba adalah ikan bakar segar dan udang kipas bakar, walau banyak juga menu-menu lainnya jika kamu bukan pencinta seafood. Dari lapangan bola, kami berjalan kaki sedikit menuju dermaga yang menjadi view point untuk mereka yang ingin menikmati sunset. Betul saja ucapan seribu pujian yang saya dengar akan indahnya sunset di Karimun Jawa! Ketika matahari mulai turun di ufuk barat dan langit berubah warna menjadi memerah menyala, rasanya seperti seluruh awan terbakar dan kami berada di dalamnya.

Karimun-Jawa-Indonesia (9)Sunset di Karimun Jawa, indahnya. #NoFilter

 

Keesokan harinya, kegiatan yang kami tunggu-tunggu pun berlangsung. Menjelajah pulau demi pulau untuk melakukan kegiatan snorkeling. Diving juga dapat dilakukan di pulau Karimun, namun karena kami belum mempunyai license diving, kami cukup puas untuk dapat belajar menyelam.

 

Hati saya boleh sedang bersedih. Namun ketika melihat biru dan jernihnya air laut Karimun, rasanya kaki ingin secepatnya meloncat dari kapal dan berenang bersama ikan-ikan hias yang sibuk menghampiri dengan penuh rasa ingin tahu. Kami memang sudah berbekal roti sesuai dengan arahan dari pemandu tour. Setiap roti dilemparkan, puluhan ikan hias belang-belang langsung secepat kilat berebutan memakan roti tersebut.

Karimun-Jawa-Indonesia (1)Mari berangkatttt… πŸ™‚

 

Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah pulau kecil. Baru pertama kali menyentuh airnya saja sudah membuat saya menggila dan jatuh cinta dengan kehidupan laut bawah pulau ini. Coral dan terumbu karang yang biasanya terletak cukup dalam di tengah lautan, kali ini terletak begitu rendah dari tumpuan kaki. Hal ini membuat kita harus hati-hati melangkah dan berenang. Selain tajamnya karang akan membuat kaki kita mudah terbeset dan terluka, juga perlu ekstra kehati-hatian agar injakan kaki kita yang menggunakan alat bantu fin itu tidak merusak terumbu karang yang ada.

Karimun-Jawa-Indonesia (13)Karimun-Jawa-Indonesia (12)Teman saya, Bhisma, belajar free diving.

 

Sempat saya berbicara dengan seorang bapak penjual barang sovernir, dia berkata, merawat keindahan terumbu karang alam bawah laut pulau Karimun merupakan keharusan semua orang. Baik penduduk lokal maupun para turis. Karena itulah daya tarik dari pulau Karimun. Jikalau alam bawah lautnya buruk, tentulah para turis emoh untuk datang berkunjung dan penduduk lokal pun akan tidak mendapatkan keuntungan dari hal tersebut.

 

Setelah puas bersnokeling di pulau kecil, kami pun mengunjungi area snorkeling lainnya yang terletak dekat pulau tengah. Memang rasanya tidak habis-habisnya ingin menjelajahi pulau demi pulau. Tetapi kelelahan mulai muncul ditambah dengan rasa lapar. Setelah merasa cukup puas terkena air laut, kami pun bertolak ke pulau tengah untuk menepi demi menikmati makan siang bersama. Kami menunggu cukup lama karena ikan-ikan baru saja dibakar.

Karimun-Jawa-Indonesia (3) Bermain di Pulau Tengah.

 

Sambil menunggu ikan-ikan tersebut matang, kami bermain-main di sekitar pulau. Pulau tersebut cukup terawat. Banyak turis lain yang datang berombongan dengan keluarga maupun teman-temannya. Terdapat 3 buah penginapan apung yang disewakan untuk umum walau saya tidak menanyakan berapa harganya per-malam. Indahnya jembatan yang menghubungi antar penginapan menjadi tempat kami beraksi sesi photo fun. Melakukan yoga sesaatpun rasanya dapat dilakukan, kapan lagi yoga on the beach dengan latar belakang jernihnya air laut yang kebiruan. Begitu panggilan makan siang datang, kamipun langsung beramai-ramai mengantri dalam mengambil makanan. Wah, ikannya besar, rasanya begitu segar dan suguhan sayur kacang serta sambal kecap cabe rawit membuat makan siang sederhana tersebut terasa sangat nikmat.

Karimun-Jawa-Indonesia (4)

 

Di pulau tengah juga terdapat sebuah kolam penangkaran ikan hiu. Hal tersebut membuat kami berdecak kagum sekaligus penasaran. Setelah makan siang, berikutnya kami mengunjungi pulau Menjangan Besar, tempat penangkaran hiu yang terkenal dengan kolam khusus tempat kita bisa berenang dengan hiu. Iya betul, dengan hiu. Saya merinding ngeri, namun juga antusias. Kapan lagi bisa mencoba tantangan ini dan mengabadikan diri tanda bukti kepada teman-teman di rumah bahwa berenang dengan hiu itu possible! Setelah memberanikan dan menyakinkan diri, saya dan seorang teman pun meluncur mulus berenang kesana kemari bersama hiu hitam. Sungguh mati, rasanya ingin kabur menepi saja dan naik ke permukaan. Apalagi ketika saya melihat hiu-hiu hitam itu bergerak perlahan menghampiri kaki saya. Saya pun teringat luka-luka beset karena terkena karang sebelumnya. Komat-kamit berdoa pun terus saya ucapkan. Untungnya, semua baik-baik saja. Setelah merasa cukup, saya dan teman pun naik ke atas permukaan sambil tertawa-tawa gembira.

Karimun-Jawa-Indonesia (5)Saya berenang bersama hiu, ihhh, takuttt…

 

Hari berikutnya adalah hari terakhir kami di pulau ini. Secara keseluruhan Karimun adalah sebuah pedesaan yang tenang dan nyaman. Harga-harga pun relatif murah di tempat ini. Tidak seperti beberapa tempat wisata yang ramai turis sehingga menaikan harga seenaknya. Harga yang ditawarkan cukup wajar. Banyak home stay murah juga yang bisa menjadi alternatif para pelancong berdompet tipis. Contohnya ya kami. Kamar yang kami tempati sederhana, memiliki sebuah tempat tidur besar dan dapat ditempati oleh 3 orang dengan sebuah kipas angin kecil. Home stay memiliki 4 kamar tidur dan 2 kamar mandi. Setiap pagi, hidangan sarapan pagi sudah tersedia untuk kami. Jujur saja, rasanya seperti tinggal di rumah sendiri daripada berada di tempat asing.

 

Karena hari terakhir, waktu menjadi cukup terbatas sebelum kepulangan kami ke Jepara menggunakan kapal cepat pukul 2 siang, kami pun hanya bersnokeling di satu spot, yaitu pulau Menjangan Kecil. Tapi ternyata, spot ini lagi-lagi memberikan kejutan tersendiri dengan keindahan alam bawah lautnya. Rasanya ingin waktu terhenti di tempat ini. Rasanya tidak ingin kembali ke ibu kota yang padat dan penuh dengan debu. Rasanya menenangkan dan menyenangkan mengamati tingkah laku ikan-ikan yang sibuk mencari makan dari balik terumbu-terumbu karang. Rasanya saya menjadi bagian dari keluarga ikan yang memperhatikan saya dengan seksama dan tak jarang merasa marah karena terganggu atau takut melihat bayangan besar tubuh saya. Dan rasanya waktu betul-betul terhenti di bawah laut sana. Tetapi sayang, waktu tetap berjalan di atas permukaan bumi, karena terdengar panggilan dari pemandu tur yang mengingatkan kami untuk naik kembali ke kapal dan mengakhiri acara snorkeling kami. Ah, kecewa rasanya hati.

Karimun-Jawa-Indonesia (10)Keindahan pulau Karimun yang tidak ingin saya tinggalkan…

 

Kami pun bertolak ke Tanjung Gelam untuk bersantai ria sejenak menikmati indahnya pantai. Pantainya memang betul-betul indah! Airnya biru transparan keperakan terkena pantulan cahaya matahari. Salah satu sudutnya mengingatkan saya akan pemandangan khas pantai-pantai di Belitung. Waktu kami habiskan dengan berenang-renang santai dan bermain pasir. Biasanya di Jakarta, sinar matahari menjadi momok yang menyebalkan, namun disini, kami menyerahkan seluruh tubuh kami terhadap pancaran teriknya sinar mentari. Seketikapun kulit menjadi hitam menggelap. Tetapi siapa yang perduli, bukannya itu tanda-tanda summer alias pulang dari berlibur di pantai.

 

Perjalanan ini pun musti berakhir. Sayang sekali meninggalkan pulau kecil nan cantik ini. Dengan sentuhan serius dari Dinas Pariwisata setempat, maka saya yakin desa Karimun dan pulau-pulau disekitarnya akan menjadi tujuan wisata banyak turis domestik maupun internasional. Banyak sekali tempat indah di bumi Indonesia ini selain pulau dewata yang biasa diagung-agungkan para tour agent. Banyak sekali tempat menarik yang patut dijelajahi anak bangsa sendiri agar keindahan alam Indonesia dapat tersampaikan sampai ke dunia internasional. Seperti sebuah slogan yang selalu kita dengar, β€œkenalilah negerimu,” memang harus sering digalangkan agar alam Indonesia lebih terawat, karena orang yang mengenali akan mencintai dan orang yang mencintai, akan menjaganya agar tetap indah.

Karimun-Jawa-Indonesia (11)Travel brings yourself back, as yourself – me.

 

Saya berharap waktu terhenti di pulau Karimun Jawa. Setidaknya perasaan sedih saya terhenti dan terbawa oleh debur ombak dan ayunan kapal yang membuat kami tertidur pulas. Perasaan sedih saya di awal perjalanan pun telah saya tinggalkan diluasnya sang samudra. Bersama ikan-ikan kecil berwarna-warni yang memberikan kebahagiaan dan memunculkan senyum tersendiri untuk saya. Waktu pun terhenti di pulau Karimun Jawa, ketika indahnya pemandangan matahari terbenam yang seperti api merah membara membuat seluruh masalah kita rasanya begitu kecil dari alam semesta ini. Indah, itulah yang akan saya katakan tentang pulau Karimun. Pulau dimana waktu terhenti dengan sempurna dan memberikan harapan akan kesempatan-kesempatan baru yang lebih baik didepan sana.

 

 

Cheers,
Dea

 

PS : Photo-photo dan captionnya tidak terdapat dalam artikel #GetStranded

Advertisements

10 comments

  1. Goshhhh… Ini keren kaka… Karimun jawa akan jd tempat dalam list saya nantinya…
    Aku sukaaaaaaaaaaa…. “Travel bring yourself back, as your self” sukaaa quotenyaaaaaaaaaaaa… Aku envy…

    Like

    • Hello Benny, iya.. Karimun Jawa cakeeppp banget.. Datang kesana lagi saya juga mau hehee.. Beruntung saya waktu itu ga ada kendala sama kapal. Mungkin sebaiknya memang hindari musim hujan, karena ombak ga menentu πŸ™‚ Salam, Dea

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s