Penjelajahan 9 Kota, 10 Hari di Vietnam – Tay Ninh

Spoiler : You can find the English version of my journey in Vietnam here, in my blog. Just click the Vietnam tag πŸ™‚ This is not the Indonesian version of that article. I wrote it before, in intention to give it to our local magazine.

 

Pagi ini saya dan Panda, teman seperjalanan saya sudah bersiap-siap akan pergi ke Tay Ninh, mengunjungi rumahnya. Memang sebelumnya, kami juga sudah berkeliling kota Saigon bersama-sama.

Sebelum ke Tay Ninh, kami mengunjungi Chu Chi Tunnel terlebih dahulu. Tempat ini bisa dicapai sendiri dengan menggunakan bus no 13 dan kemudian 79 dari Benh Than Market dengan lama perjalanan 1,5 jam. Walau banyak travel agent yang menawarkan day trip ke Chu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple, karena dua tempat ini searah, namun karena rumah temanku berada di Tay Ninh, kami pun berpergian sendiri, tidak menggunakan jasa travel.

Tay-Ninh (1)

 

Chu Chi Tunnel

Tay-Ninh (2)Hore, akhirnya kami tiba di Chu Chi Tunnel!

Tay-Ninh (6)Perjalanan yang cukup jauh untuk mencapai “the Tunnel.”

 

Dengan membayar 90.000 VND, kita bisa berada di dalam Chu Chi Tunnel yang ngeri-ngeri asyik. Ngeri, karena kita akan merasakan bagaimana suasana di dalam lorong bawah tanah saat rakyat Vietnam bertahan untuk melawan tentara Amerika. Asyik, karena kita pasti akan terkagum-kagum melihat isi terowongan sambil membayangkan bagaimana mereka membangun lorong bawah tanah ini.

Tay-Ninh (3)Ciluk.. ba! Untung masih muat ya.. Badan tidak melebihi lebar pintu terowongan, hehe.

Tay-Ninh (7)Bukan sembarang batu, namun agar udara luar dapat masuk ke dalam terowongan.

Tay-Ninh (8)Sengaja dibuat kecil, supaya musuh (tentara Amerika) yang berbadan besar tidak dapat masuk.

 

Hati-hati kalau berjalan di dalam terowongan ini, karena masih ada banyak jebakan yang bisa melukai kaki kita. Ikuti saja petunjuk dari guide setempat supaya aman dan siap-siap menahan nafas mengecilkan perut supaya kita bisa melewati lorong-lorongnya yang sempit. Jangan pandang enteng lorong bawah tanah ini loh. Walau terlihat kecil dari luar, namun sangat luas di dalam. Bahkan ada ruang operasi, dapur, ruang meeting, ruang theater, serta sebuah pintu keluar yang langsung tembus ke danau, tempat pasukan bisa bermandi-mandi di danau.

Tay-Ninh (9)Hati-hati saat berjalan, banyak perangkap yang dibuat oleh tentara Vietnam.

Tay-Ninh (10) Tay-Ninh (11)

Di dalam terowongan saja ada tempat untuk meeting room, operasi, melihat film, bermain kartu dan minum teh.. Wah!

 

Cao Dai Temple

Tay-Ninh (12)Saya di depan Cao Dai temple.

 

Perjalanan dari Chu Chi Tunnel ke Cao Dai temple cukup terbilang seru. Soalnya kami salah naik bus, sehingga perjalanan yang seharusnya singkat, jadi memakan waktu yang cukup lama karena rute bus harus memutar jauh. Belum lagi ada seorang mabuk yang masuk ke dalam bus dan membuat kehebohan. Hampir saja jarinya terjepit pintu sampai kami meneriakinya. Belum lagi karena mabuk, dia berbicara cukup kasar dengan perempuan yang menagih uang tiket kepada para penumpang. Ucapannya rupanya membuat marah banyak orang, sehingga dalam jangka waktu singkat, banyak sekali penumpang yang berteriak-teriak. Sehingga terjadi saling sahut antara penumpang yang membela si ibu penagih tiket dengan si pemabuk. Saya yang tidak mengerti bahasa Vietnam, hanya bisa mengamati saja apa yang sedang terjadi. Akhirnya si pemabuk turun di tengah jalan sambil mengancung-ancungkan kartu identitasnya. Mungkin pertengkaran mereka melibatkan topik tentang identitas diri. Entahlah..

 

Jalanannya cukup jelek sepanjang kami menuju stasiun bus, tempat kami berganti bus untuk menuju Chu Chi Tunnel. Rusaknya jalanan membuat seorang ibu terlihat begitu pusing dan hendak muntah. Saya yang berada di sebelahnya terpaksa menawarkan diri untuk memijit pundaknya karena dia terlihat kepayahan sekali. Memang cuaca begitu terik saat itu. Si ibu penagih tiketpun dengan sigap memberikan plastik kresek. Ternyata tanda-tanda seseorang akan muntah merupakan pemandangan yang biasa, karena ternyata di bus sudah disiapkan plastik kresek. Eww…

 

Kami pun akhirnya sampai ke Cao Dai Temple setelah berputar-putar jauh dengan bus tersebut. Waktu sudah hampir pukul 6 sore, sebuah upacara doa akan segera dilaksanakan di temple. Teman saya, Panda, memohon-mohon kepada pendeta setempat agar memperbolehkanku melihat sebentar saja bagian dalam temple karena sudah datang dari jauh. Akhirnya pendeta tersebut memperbolehkan kami berjalan mengelilingi temple satu kali.

Tay-Ninh (14)The Devine Eyes – the symbol of God untuk para penganut Cao Dai.

 

Wah, aku rada grogi, karena ternyata sudah banyak orang yang duduk manis secara teratur untuk bersiap-siap berdoa. Semua mata memandang kami, mungkin karena merasa terganggu dengan kehadiran kami, sehingga prosesi doa jadi terlambat. Cepat-cepat aku mengikuti langkah kaki sang pendeta. Temanku melarang mengambil photo diri sendiri di dalam temple, karena menurut mereka, hal tersebut akan mendatangkan nasib buruk.

Tay-Ninh (13)

Cao Dai ini adalah sebuah temple yang menarik sekali karena interiornya yang berwarna warni dan ukirannya yang banyak menyerupai naga atau ular. Di dalam temple terdapat sebuah bola biru besar yang memiliki mata empat penjuru, inilah yang mereka sebut Devine Eyes – the symbol of God. Ajaran Cao Dai sendiri banyak menyadur dari aspek Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme dan Katholik. Cao Dai mengacu kepada etika pengajaran Konfusianisme, praktik okultisme dari Taoisme, teori karma dan kelahiran kembali dari Buddhisme dan organisasi hirarkis, termasuk kehadiran Paus dari ajaran Katolik Roma. Penganut Cao Dai banyak terdapat di Vietnam Selatan terutama di Tay Ninh. Ajaran ini mulai terbentuk pada tahun 1926.

Tay-Ninh (15) Tay-Ninh (5) Tay-Ninh (4)

 

Setelah mengucapkan banyak terima kasih kepada pendeta yang mengantarkan kami berkeliling satu kali, kami pun meninggalkan Cao Dai temple dan menuju rumah Panda. Rasanya cukup melelahkan sekali satu hari ini. Namun pengalaman yang di dapat dari melihat terowongan pertahanan Chu Chi yang menakjubkan, lalu pengalamanΒ  sekali seumur hidup dengan kegaduhan di bus lokal Vietnam, serta perjalanan keliling Cao Dai temple yang penuh warna namun cukup spooky buat saya, merupakan pengalaman indah yang tidak terlupakan. Rasanya senang sekali bertemu dengan keluarga Panda, berkenalan dengan Lucky, anjing kecilnya, dan bercerita sepanjang malam – obrolan dua perempuan yang dibesarkan dari dua kebudayaan berbeda dan baru dipertemukan kemarin ini.

Tay-Ninh (16)Hello dari Lucky!

 

Kami pun tidur, karena besok, liburan kami berlanjut, saya dan Panda akan menuju Mui Ne. Sebuah kota menarik yang mempunyai pantai dan padang pasir. Betul, padang pasir! Penasaran seperti apa? Mari ikuti cerita saya berikutnya…

Cheers,
Dea Sihotang

Disclaimer

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s