Penjelajahan 9 Kota, 10 Hari di Vietnam – Mui Ne

Berpergian ke Mui Ne merupakan salah satu tujuan destinasi yang saya tunggu-tunggu. Ini adalah hari kelima saya di Vietnam dan kota ketiga yang saya kunjungi. Di kota ini kita bisa melihat padang pasir di satu sisi, lalu laut di sisi lainnya. Betul-betul fenomena alam yang unik. Seumur-umur, saya belum pernah ke padang pasir. Tadinya saya mengira bahwa untuk merasakan panasnya berjalan di tengah padang pasir, saya harus jauh-jauh terbang menuju negara kesatuan Arab. Ternyata tidak perlu! Cukup dengan penerbangan Jakarta – Saigon selama 3 jam dan Saigon – Mui Ne selama 4 jam dengan bus (hihii, iya, pastinya pegal banget – namanya perjuangan dalam traveling), kita akan bisa ke salah satu tempat paling menarik yang ada di negara Vietnam.

MuiNe-Vietnam (11)White Sand Dunes yang cantik dan menarik hati untuk dikunjungi…

 

Untuk mencapai Mui Ne, kami harus kembali ke Saigon setelah berkunjung ke Tay Ninh. Kami menggunakan travel bus dari District 1. Tiket bus seharga 105.00 VND per-orang dengan lama perjalanan selama 4 jam. Bus tersebut akan berhenti tepat di depan hotel, tempat kami menginap malam itu.  Hotel yang kami tempati bernama Bien Nho Resort juga memiliki view yang keren karena letak kamar kami tepat menghadap ke kolam renang dan laut lepas (http://biennhoresort.com/).

MuiNe-Vietnam (4)Hotel tempat kami menginap.

 

Mui Ne memiliki pantai yang indah sehingga membuat suasana di jalanan utamanya terasa seperti Bali, Indonesia. Tiap hotel biasanya menyediakan sepeda yang bisa digunakan. Ada yang berbayar, ada yang gratis. Untungnya kami dapat peminjaman secara gratis. Karena waktu sudah malam juga, sehingga sepeda tersebut hanya sebentar kami gunakan. Saat malam tiba di Mui Ne, kita bisa duduk santai di restaurant pinggir pantai sambil menikmati  seafood dengan deburan ombak yang terdengar dari kejauhan. Disinilah pertama kalinya saya melihat daging buaya untuk di konsumsi, walau saya belum punya nyali untuk memakannya, hehe.

MuiNe-Vietnam (1)Daging buaya… umm…

MuiNe-Vietnam (2)Teman saya, Panda, sedang menikmati seafood yang kami pesan malam itu. Yumm yumm!!! Excellent!

 

Pagi harinya setelah berenang sebentar menikmati indahnya pagi hari, dengan bantuan pihak hotel, kami menyewa sebuah jeep dengan biaya sebesar USD 25/5 jam untuk mencapai padang pasir. Padang pasir disini terbaik menjadi dua, yaitu White Sand Dunes dan Red Sand Dunes. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua padang pasir ini, namun tempat yang paling indah menurut saya adalah White Sand Dunes. Sepanjang perjalanan dari hotel menuju White Sand Dunes, terasa seperti berada di Australia (perumpamaan ini cukup konyol, karena saya juga belum pernah ke Australia, haha). Namun jalanannya yang panjang, angin yang cukup kencang menerpa wajah kami, jeep macho yang berjalan dengan santai disertai dengan gurauan riuh sang pengemudi, serta pemandangan lautan lepas di sebelah kanan kami, rasanya seperti tidak ada permasalahan sama sekali di dalam hidup kami. Life is good!

MuiNe-Vietnam (3)Pemandangan dari depan kamar kami. Indah sekali ‘kan?!

MuiNe-Vietnam (5)Jeep yang membawa kami berkeliling Mui Ne.

MuiNe-Vietnam (6)Life is good when I am on the road!

MuiNe-Vietnam (7)Pemandangan yang indah, sebelah kanan saya laut. Sebelah kiri sudah padang pasir.

 

Sesampainya kami di White Sand Dunes, matahari sudah cukup menyengat, walau pukul baru 10 pagi. Tentu saja, ini kan padang pasir! Teman saya, Panda, yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi tempat ini, menolak untuk mengikuti menaiki motor trail berkeliling padang pasir karena cuaca yang terlalu panas. Saya pun membayar sebesar 300.000 VND untuk berkeliling padang pasir selama 20 menit. Cowok lokal yang mengemudi motor tersebut mengajak saya untuk mengendarai sepeda motor, wah, penasaran dengan tantangan tersebut, akhirnya saya pun mengiyakan dan menyoba mengendarai motor di antara lautan pasir putih. Seru sekali rasanya! Tetapi, menyadari betapa grogi dan lambatnya saya, saya mengembalikan kemudi kepada si cowok lokal, dengan sigap dia pun membawa saya semakin tinggi, tinggi, melewati gundukan pasir dan berhenti tepat diatasnya. Wah! Antara jantung mau copot disertai dengan aliran adrenaline yang terpancing naik. Perasaan saya campur aduk.

MuiNe-Vietnam (9) MuiNe-Vietnam (10) MuiNe-Vietnam (8) MuiNe-Vietnam (13)Siap-siap bernarsis ria lah disini, hehe.

 

Di kejauhan, saya melihat beberapa turis jalan kaki di tengah padang pasir. Weh, kebayang betapa panasnya hari untuk mereka! Herannya lagi, walau di tempat sepanas ini, banyak juga rumput dan pepohoanan yang tumbuh. Saya melihat sebuah danau penuh dengan bunga lotus dan sapi-sapi yang sedang merumput dikejauhan.

MuiNe-Vietnam (12)Ada danau dan pepohonan di tengah gurun pasir…

 

Coba search di google, banyak banget loh ide keren untuk photo-photo di padang pasir ini. Lumayan buat kenang-kenangan seumur hidup, seperti saya, yang cukup banyak narsis-narsisan. Untung si mas pengemudi berbaik hati motoin saya. Muka kepanasannya berubah menjadi senyuman lebar ketika saya berikan dia tips saat tour kami selesai.

MuiNe-Vietnam (14)Salah satu photo lain yang berhasil diphotoin oleh si mas-mas guide.

 

Selain padang pasir, terdapat juga Fairy Springs, Red Canyon dan Desa Nelayan. Red Canyon ini macamnya Grand Canyon yang di USA itu, kepengennya sih dibuat seperti itu. Namun, saya lihat dari kejauhan tempatnya kecil saja, jadi batallah kami mampir di Red Canyon dan lebih memilih untuk langsung ke Fairy Spring. Walau kami sempat berhenti sebentar di Desa Nelayan.

MuiNe-Vietnam (18)Desa Nelayan di Mui Ne.

 

Seperti namanya, Fairy Spring ini adalah tempat dimana kita bisa melihat aliran mata air. Setibanya di tempat ini, kami harus membuka sepatu dan sendal agar bisa berjalan diantara rute air. Lokasinya cukup keren karena banyak terdapat tembok-tembok tanah alami. Namun kami tidak berjalan kaki sampai ke ujung mata air, karena rasanya seperti sedang main banjir-banjiran saja buat saya. Tempat ini free, hanya saat masuk, beberapa orang lokal menawarkan diri untuk menjadi guide. Buat yang pengen tau rasanya naik burung Ostrich bisa coba di Fairy Spring dengan membayar 150.000 VND. Khawatir berat badan saya akan mencekik si burung Ostrich, saya pun membatalkan niatan untuk mencoba menaiki burung ini.

MuiNe-Vietnam (15) MuiNe-Vietnam (16) MuiNe-Vietnam (17)

 

Tidak terasa, Mui Ne adalah kota ketiga yang saya kunjungi di Vietnam. Ini adalah hari kelima dari sepuluh hari total perjalanan saya. Masih ada lima hari lagi, dan beberapa tempat yang ingin saya lihat. Siang ini, kami akan melanjutkan perjalanan menuju Hoi An. Sebuah kota tua kecil yang kental dengan pengaruh gaya Jepang dan masuk dalam list heritage UNESCO. Penasaran seperti apa? Keep reading ya… 🙂

 

Cheers,
Dea Sihotang

Disclaimer

Advertisements

4 comments

    • Helloooww Rizka, seafood disana kayanya normal-normal aja harganya.. Ga di “ketok” maksudnya, tapi jujur, aku lupa nih harganya waktu itu 😦 Coba di tanya aja ya sebelum order 🙂

      Like

  1. Hi emba,saya akan kesini tanggal 12 bln 3 ini dari kuala lumpur, nah dari kuala lumpur apa saya bisa langsung kesana dengan backpack saya? Atau baiknya cari Hostel dulu? Apa nama bandara yg deket dari sini?Rencana dari sini mau ke cambodia, dari cambodia flught lagi k kuala lumpur, #sorry lots questions

    Like

    • Hai Eounas, terima kasih sudah mampir ke blog aku ya. Btw kamu mau ke Mui Ne maksudnya? Kalau dari KL harus berhenti di Saigon dulu, terus naik bus lagi dari Saigon ke Mui Ne/Phan Thiet kalau ga salah nama kotanya. Aku ga ngerti dengan pertanyaan kamu baiknya dengan backpack atau cari hostel dulu? Kalau dari KL pasti terbang bawa backpack toh?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s