Penjelajahan 9 Kota, 10 Hari di Vietnam – Sapa

Betapa senangnya hati saya ketika awal perjalanan ke Vietnam ini, saya iseng menulis status tentang rencana kepergian saya di Facebook dan tiba-tiba seorang teman lama, teman SMU saya tepatnya, memberikan pesan bahwa dia akan tiba di Hanoi pada tanggal yang bertepatan dengan saya! Kami pun merencanakan untuk traveling bareng. Horeee.. Selain senang karena akan temu kangen, saya pun senang karena punya travel mate di jalan nanti. Tempat yang jadi tujuan kami adalah Sapa. 9 jam perjalanan dari Hanoi dengan menggunakan kereta api, berada pada ujung utara Vietnam dan berbatasan dengan negara Cina. Di Sapa, terdapat pegunungan yang indah serta masyarakat lokal Vietnam dari ras yang jarang, yaitu Hmong. Rasa penasaran membuat saya begitu antusias untuk berpergian ke tempat ini.

Sapa-Vietnam (13)Seorang perempuan Hmong yang kami temui saat berjalan-jalan di pegunungan.

 

Dengan menggunakan kereta api dari Hanoi pada pukul 9 malam, kami pun sampai di Sapa pada pukul 6 pagi. Kereta yang kami naiki adalah berjenis sleeper bed, maksudnya dalam satu ruangan, terdapat 2 kasur tingkat, saya dengan teman saya berikut sepasang traveler dari Perancis. Dengan harga tiket sebesar USD 45 kereta ini menurut saya cukup nyaman. Sepanjang perjalanan pun kami bisa tidur dengan nyaman.

Sapa-Vietnam (1)Saya dan teman saya bersiap menaiki kereta api.

Sapa-Vietnam (26)Penampakan “kamar berjalan” kami malam itu.

 

Sesampainya di stasiun Lao Cai, kami harus naik travel car dengan biaya 20.000 VND per-orang untuk menuju ke Sapa. Travel car itu adalah sebuah mobil pribadi yang dijadikan mobil angkutan umum. Penumpang dari travel car selain kami, adalah satu keluarga yang berasal dari Australia. Keluarga tersebut memiliki anak-anak kecil yang berteriak dengan hebohnya karena di bawah bangku mereka terdapat buah nangka dengan aromanya yang sangat manis. Ini kali pertama untuk mereka melihat buah nangka dan mereka bingung karena buah ini wanginya manis seperti permen.

Sapa-Vietnam (2) Sapa-Vietnam (3)

Travel car di Lao Cai

 

Sayangnya kami dibohongi supir travel car. Awalnya kami sudah bernegosiasi untuk diantarkan sampai depan hotel kami, atau setidaknya bisa berada di jalan tempat hotel kami berada. Tapi yang ada, kami disuruh turun di tempat hotel bule-bule tersebut berada. Lah, padahal kami tidak tinggal di tempat itu. Jengkel lah kami karena harus mencari alamat di tempat yang kami tidak kenal dengan landskap yang berbukit-bukit. Untung cuaca di Sapa dingin, jadi mood kami tidak tambah panas karena teriknya sengatan matahari.

Sapa-Vietnam (4)Di buat nyasar sama supir mobil…. *)$&%#&%*%$&^%&

 

Setelah nyasar sana sini, akhirnya kami pun tiba di Elysian Sapa Hotel, 038 Cau May – Sapa, sebuah hotel kecil yang langsung membuat kami jatuh cinta karena interiornya yang cantik. Pria yang menjadi supervisor hotel juga sangat ramah dengan kami (ganteng pula!). Setelah beristirahat sejenak, kami pun pergi mengelilingi kota Sapa dan bukit-bukitnya dengan motor yang kami sewa dari hotel seharga USD 10.

Sapa-Vietnam (6)Senangnya akhirnya kami tiba juga di hotel cantik ini!

 

Saya cukup deg-degan waktu berkesempatan untuk menyetir motor sendiri. Dulu sekali, saya pernah jatuh dari motor karena keisengan saya membawa motor vespa yang baru saja diperbaiki ayah saya dan ternyata belum betul benar. Sejak itu saya selalu grogi bawa motor, karena saya jatuh dua kali berturut-turut waktu itu. Di tambah adegan ngebaret mobil orang, ckckck. Anyway, saya pun memberanikan diri untuk nyetir sendiri. Sempat berteriak-teriak panik ketika merasa gas motor out of my control! Tapi untung traffic di Sapa cukup sepi, pas di pegunungan pun, saya keringetan dingin waktu harus belok-belok mengikuti alur pegunungan yang landai. Singkat cerita, saya sukses nyupir motor walau kegrogian saya bikin saya sempet ngebreak dance sama motor saat melewati pasir-pasir kerikil, tapi yang penting saya ga jatuh, hehe.

Sapa-Vietnam (7) Sapa-Vietnam (8) Sapa-Vietnam (12)

Di kota Sapa ini banyak sekali Hmong People, masyarakat asli dari suku yang keberadaanya sudah cukup langka di Vietnam. Ciri-ciri dari mereka adalah pakaiannya yang khas bermotif tenun Hmong dengan warna-warni yang bikin saya iri kepengen punya. Mereka mencoba menjajakan hasil buatan tangan mereka seperti gelang, baju, tas, dompet, macam-macam ke setiap turis yang lewat. Nah, jika ingin memoto mereka, kita harus siap-siap diikuti oleh mereka sambil menawarkan ini itu, sampai akhirnya kita menyerah dan membeli barang-barang mereka. Saya sih ga merasa rugi, karena memang saya suka barang-barang etnik, hanya saya harus berhemat karena Dong saya ga banyak dan saya ga punya bagasi pesawat, maklum backpacker! Kalau ga gitu, ga akan bisa saya jalan-jalan lagi dan nulis cerita lagi kan?

Sapa-Vietnam (5)Para pedagang Hmong yang sedang mencari pembeli.

 

Yang lucunya dari orang-orang Hmong ini adalah bagaimana mereka mengikuti kita sambil berusaha mengajak bicara kami dengan bahasa Inggris mereka yang sepatah-patah. Nah disini, saya perhatiin, mereka seperti punya default pertanyaan untuk para turis. Contohnya gini, saya ketemu ibu A, dia pasti akan bilang seperti ini ;

Ibu A : “Hello, how are you?”

Saya : “I am good, thank you!”

Ibu A : “What is your name?”

Saya : Dea

Ibu A : “How old are you?”

Saya : ljfladfldja (???) – lalu menyebut sebuah angka suka-suka saya saja, hihii.

Ibu A : “Where do you come from?”

Saya : “Indonesia.”

Lalu terjadilah sebuah usaha untuk transaksi penjualan barang kecil-kecilan.

 

Baru beberapa menit pisah dari ibu A, muncullah ibu B.. Dengan cerianya akan bertanya kepada saya…

Ibu B : “Hello, how are you?”

Saya : “I am good, thank you!”

Ibu B : “What is your name?”

Saya : Dea

Ibu B : “How old are you?”

Saya : dafldjldjfadlaa (???) – hah… kok kaya dejavu! Kemudian saya kabur…

 

Sapa-Vietnam (25)Saya suka photo ini, cantik banget anak kecil ini.

 

Tapi saya menikmati jalan-jalan sore kami di kota Sapa ini. Terdapat sebuah pasar di lapangan utama. Saran saya, kalau ke Sapa dan suka barang-barang unik, bawalah Dong yang banyak dan belanjalah. Selain memang hasil kerajinan tangan mereka bagus sekali, juga supaya memberikan berkat buat mereka. Saya aja yang cuma sanggup beli pernak pernik kecil, disambut dengan senyuman yang hangat dan ramai sekali dari mereka. Saya juga jadi bisa photo-photo deh sama mereka. Baru saja saya upload photo di Facebook, tiba-tiba teman saya yang orang Vietnam juga message saya, “Hi Dea, did you know that Hmong people only take shower 2 times a year?” Saya : “Whatttt?!!!” – Yah sudah terlanjur hehehe. Kapan lagi bisa narsis-narsisan sama orang-orang Hmong yang baik hati ini.

Sapa-Vietnam (20)Pasar tradisional yang berada di tengah kota Sapa.

Sapa-Vietnam (21)Seorang ibu dari suku Hmong sedang sibuk merapikan barang dagangannya.

Sapa-Vietnam (22)Para pedagang Hmong yang berusaha menjajakan barang dagangannya.

Sapa-Vietnam (23)Saya sedang coba melihat-lihat barang yang ingin di beli.

Sapa-Vietnam (24) Sapa-Vietnam (18)

Saya bersama orang-orang Hmong.

 

Mungkin mereka jarang mandi karena cuacanya yang dingin di perbukitan Sapa. Banyak terdapat sawah berundak yang menambah keindahan pemandangan sekitar. Angin yang kencang cukup membuat tubuh saya menggigil. Tak heran bila Sapa dibilang mempunyai 4 musim dalam sehari. Karena pagi hari terasa seperti spring, siang terasa seperti summer, sore terasa seperti autumn dan malam terasa seperti winter.

Sapa-Vietnam (14) Sapa-Vietnam (11) Sapa-Vietnam (10) Sapa-Vietnam (9)

Pemandangan di pegunungan Sapa.

 

Sapa sendiri adalah kota kecil yang menarik untuk berjalan-jalan santai. Namun perlu di ingat, rata-rata restaurant tutup mulai pukul 1 siang (setelah makan siang) sampai waktu makan malam tiba. Saya dan teman saya yang harus late lunch sempat kebingungan dimana kami bisa makan. Untung akhirnya nemu satu restaurant yang buka, yayyy! Ga jadi kelaperan!

Sapa-Vietnam (17) Sapa-Vietnam (16) Sapa-Vietnam (15)

 

Perjalanan kami di Sapa memang tidak terlalu lama, malah malam itu pun kami harus kembali ke Hanoi dengan menaiki kereta kembali pada pukul 9 malam. Sialnya saat kami kembali ke Hanoi, yang menjadi pasangan kami dalam sleeper bed room adalah dua lelaki Vietnam yang ngobrol terus sepanjang malam dengan suara yang kencang plus seperti sedang main drama menurut saya (mungkin karena saya ga ngerti).

Sapa-Vietnam (27)Oke, akhirnya saya bisa tidur juga!

Saya cukup merasa annoying apalagi setelah yang seorang stop bicara, tiba-tiba yang seorang menelpon orang lain dengan suara yang kencang-kencang. Hadeh! Namanya aja sleeper bed, peruntukan kereta ini untuk tidur boss, bukan ngobrol! Sembari penuh rasa keki, saya pun mencoba memejamkan mata. Untungnya ketika terbangun, kereta sudah tiba di Hanoi! Yihaaa!!

Sapa-Vietnam (19)Saya dan Alfin, teman sekolah sekaligus travel mate saya di Sapa.

 

Siang ini, saya akan ke Ha Long Bay. Dan teman saya akan kembali ke negaranya.

Can’t wait!

 

Cheers,
Dea Sihotang

Disclaimer

Advertisements

4 comments

  1. udh pernah k HCMC, tp aku msh pgn balik k vietnam cuma utk ngeliat sapa ^o^… dr dulu pgnnnnnn bgt ksana… tp knpa ya itu org2 vietnam suka bgt ngelakuin scam -__-.. di hcmc sndiri aku kena jg tuh mba… kalo aja ini negara pemandangannya ga bgs gila, aku udh ogah mw planning ksana lagi 😀

    Like

    • Sapa bagussss bangett! Orang-orang Hmong juga sebetulnya baik-baik banget. Tapi ya itu ya, mungkin karena mereka juga termasuk miskin ya, jadi tiap ada turis di anggap ada “pemasukan”. Tapi intinya sih mereka baik-baik 🙂 Aku juga mauuu ke Vietnam lagiiii…

      Like

  2. oohh ni lebih lengkap mengenai sapa , hehheh berasa kaya di suku mana gitu y mba ? g pernah mbayangin di vietname ada yg kaya gitu hihihihi
    tertarik kesini cuma mungkin next time , di kerjar waktu ma budget hihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s