Menulis Itu Harus Senang

Menulis itu harus senang.

 

Sebait kalimat itu langsung rasanya mengena di hati saya seperti petir yang tiba-tiba muncul di langit malam yang gelap gulita. Memang gelap sekali perasaan saya ketika mematikan saluran telpon setelah berbicara beberapa saat dengan teman saya, Indra. Rencana awalnya saya menelpon dia karena ingin mendapatkan pencerahan, memang beberapa hari ini saya lagi off dari blog karena kepikiran pengen nulis yang serius (bukan tentang travel blog), eh malah yang ada saya jadi mumet ga keruan. Bukan salah Indra, cuma emang hal-hal yang ingin dibahas oleh otak saya banyak banget. Dan kadang sel-sel kelabu (istilahnya Hercule Poirot soal otak dia) saya, biasanya selalu rumit karena banyak banget adegan mikirnya. Barusan saya menulis singkat sebuah pesan kepada Emma, teman saya, “Seandainya aja tangan saya sepuluh, jadinya gue bisa kerjain ini semua deh.” Dengan singkat dia bilang, “Waduh jangan deh tangan elo sepuluh. Tangan elo cuma dua aja udah banyak banget yang elo kerjain dan pikirin.” Saya rasanya ingin ketawa ngakak dengar komen dia.

 

Tapi inilah saya. Saya suka gugup ga keruan kalau di otak tiba-tiba punya ide yang banyak banget dan kepengen cepat-cepat dituntaskan. Entah bawaan orok atau salah makan, tapi emang kebiasaan banget, saya itu kalau mau ngelakuin sesuatu sekarang, ya bawaannya kepengen sekarang aja dikerjain, bukan entar-entar, bukan besok. Saya paling benci dengar kata “Liat aja nanti, atau entar aja gampang dipikirin lagi,” Emang kurang nyantai saya nampaknya. Kata Indra, gue terlalu ambisius. Engga kok Ndra, cuma pengen mengejewantahkan aja ide yang udah muncul di permukaan. Harga sebuah ide itu mahal gela! Sayang kalau cuma jadi ajang pengandaian.

 

Intinya pembicaraan saya dengan Indra (asli, ini nama yang sebenarnya) barusan adalah perihal tulis menulis kita. Sudah setahun berlalu sejak Ancala keluar. Walau sehari-harinya kita semua para penulis Ancala aktif menulis di blog masing-masing atau media tulisan lainnya, tapi ya udah setahun loh, Ancala lahir dan belum ada lagi karya macam Ancala atau lebih baik dari Ancala yang keluar dengan nama kita di cover depannya. Kan sayang banget waktu berjalan begitu saja. Walau bukan berarti kita ga produktif. Nyatanya saya lagi senang-senangnya mempercantik blog saya ini, macam anak saya sendiri aja. Saya juga tetap keras kepala buat usaha terus ngetrip walau cuti udah minus berhari-hari di kantor dan dapat blacklist dari HRD sebagai karyawan yang paling sering ngabur. Tetapi ya itu… Udah setahun belum ada karya baru lagi secara printing, rasanya itu…

 

Semuanya berawal dari diskusi ringan yang kemudian jadi rada kenceng dan akhirnya menimbulkan patah hati di dalam hati saya doang (Indranya engga). Itu karena saya tanya sama dia gimana kalau nulis sesuatu hal yang ternyata udah ada yang nulis sebelumnya. Indra dengan entengnya nanya, “Nah elo musti mikir apa yang spesial dari tulisan elo yang bisa di offer ke media.” Saya jadi mikir. ‘Ya iya juga ya, apa dong?’ Terkadang pengalaman orang kan ya mirip-mirip, tetapi yang bikin berbeda itu kan :

  • Siapa yang ngalamin.
  • Jiwa yang menerima pengalaman itu.
  • Cara berpikir dan melihat suatu kejadian. Setiap orang pasti berbeda-beda.

 

Tetapi kok saya jadi nervous sendiri. Apalagi ya sebagai seorang penulis di bumi Indonesia, nama saya masih endok. Lalu permintaan pasar kadang ga sesuai dengan idealis saya sebagai penulis. Duh ribetnya!

 

Oke, tarik nafas dalam-dalam…

Seperti kata guru yoga, inhale exhale….

Sesuai dengan kalimat awal curahan hati malam-malam ini, tiba-tiba saya teringat suatu kalimat singkat itu. Menulis itu harus senang. Sebenarnya bukan hanya soal menulis saja. Tetapi apapun yang kita suka lakukan, kita harus melakukannya dengan senang. Kalau udah mulai berasa ga senang, berarti jiwa kita ga akan ada di hal itu, segimanapun kita memaksakan diri kita untuk bisa menyelesaikan apa yang kita mulai.

 

Menulis itu harus senang. Jadi terserah apa kata industri pertulis-menulisan belakangan ini, seperti kata Indra juga, ‘Setiap cerita itu pasti ada takdirnya masing-masing.’ Walau mungkin penilaian media komersil tulisan yang sudah kita buat kurang greget untuk ditayangkan di depan umum, tetapi kita sebagai penulisnya pasti tetap bangga akan apa yang telah kita tulis dan selalu ada tempat untuk menuangkan hasil tulisan kita yaitu di blog, iya, blog ini.

 

Jadi jangan sedih, jangan pusing dan jangan stress. Menulis itu harus senang. Apapun target kamu saat ini, menulis itu harus senang.

Menulis-Harus-Senang

Salam ceria,
Dea Sihotang

Disclaimer

Advertisements

4 comments

  1. bayar lu woeiy bayar…!

    oiya, kallmat tepatnya, “Setiap tulisan punya takdirnya masing – masing” gono.
    kalimat itu selalu ada kok di moumantay.blogspot.com :3

    dan Dea, saran gue,
    you had better in writing in bahasa than before. keep going in bahasa. really.

    Liked by 1 person

  2. Ah elo mah labil Ndra, kemarin gw disuruh engres, mana tahan ngadepin engres melulu hahaha… Dibilangin setiap orang pasti “penerimaannya” beda walau kata-katanya sama 😀

    Makasih loh udah diijinkan pakai nama aslinya tanpa bayar *maksa* 😛

    Like

  3. no, bukan itu, tulisan lu yang ini beda, lebih berasa dan menurut gue, pergeseran kalimatnya lebih halus dari tulisan Indonesia lo yang terakhir gue baca. makanya kalo dibiasain pasti bisa, maksud gue, pake bahasa Indonesia dengan shape lu ketika nulis inggris.

    gitu lah kira – kira

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s