Mari Menulis Walau Tidak Gampang

Siapa bilang menulis itu gampang?

 

Ok. Buat mereka yang punya talenta, suka menghayal dan banyak pengalaman, menulis itu mungkin hal gampang buat mereka. Tapi jujur saja, saya sih merasa saya punya talenta (bukan sombong), saya juga suka menghayal, lalu setidaknya di umur saya yang sekarang (ga usah di tebak), pengalaman saya pastilah lebih banyak dibanding orang-orang lain yang umurnya di bawah saya (ya iyalah). Tapi buat saya, menulis itu tetapppp susah. Sesukanya saya sama tulisan, rasanya tetap mumet jika harus mikir gimana paragraf selanjutnya harus berbunyi.

 

Ada yang bilang practice makes perfect. Bener! Bener banget.

 

Saya ga setuju sama orang-orang yang beranggapan, ahhh santai aja, gw cuma nunggu aja sampai ide dari langit muncul lalu jadilah sebuah buku tebal hasil imajinasi saya. Sekali lagi, mungkin bisa jadi ada kejadian macam itu. Tapi mungkin hanya satu banding seribu. Dan itu bukan kejadian saya.

 

Buat saya, menulis itu harus dipraktekkan setiap hari. Kalau ga, saya akan kaku banget ketika harus beneran nulis. Makanya saya suka nulis di blog. Diusahakan sebisa mungkin setidaknya tiap minggu harus ada tulisan di blog. Entah itu soal cerita perjalanan, tips-tips seputar traveling, curcolan hati yang daripada menuhin pikiran mendingan di curahin aja ke tulisan, atau hal-hal lainnya.

 

Nah, belakangan ini, terinspirasi dengan para penulis-penulis lain, muncullah tantangan dalam diri saya untuk nulis novel. Novel! Bukan maen. Novel itu kan cerita yang panjaaaangggg banget. Bisa nulis berbab-bab. Harus ada tokohnya, intriknya, backgroundnya, banyak banget unsurnya. Tapi kok saya tertantang. Dan mulailah saya mencoba bermain dengan unsur-unsur tersebut untuk menghasilkan satu cerita.

 

Oke finished. Engga tau juga kenapa bisa finished. Mungkin memang saat itu ide saya lagi banyak dan semua kata-kata seperti rasanya ngalir gitu aja. Saya sampai ga kepengen makan, ga kepengen tidur, dan selalu tiap sudah nulis satu bagian, tiba-tiba saja ada ide baru yang muncul. Sebel, tapi seneng. Karena bikin ceritanya jadi lebih nyambung, masuk akal dan hidup.

 

Lalu kalau sudah finished, harusnya tinggal tenang-tenang aja dong. Ternyata engga. Setelah saya baca ulang lagi, banyak banget kekurangan di dalamnya. Dan setelah teman saya yang sama-sama penulis baca lagi, ternyata makin banyak lagi kekurangannya. Sejujurnya, saya juga kepengen ngasih unjuk ke seseorang yang awam, pembaca sesungguhnya. Pengen tau, apakah pandangan normal dia sebagai pembaca biasa akan bisa menikmati tulisan saya itu atau engga. Tapi saya musti siap-siap dengan kritikan sana-sini lagi pastinya. Tapi kritikan untuk membuat novel tersebut jadi semakin baik, why not? Saya malah takjub banget sama teman saya yang penulis tadi, dia kasih komen-komen hal-hal yang menurut dia kurang. Bukan secara general, tapi kata demi kata dia baca dan komentarin. Weh!

 

Jadi sebelum sekarang saya membolak-balik halaman demi halaman dan memperbaiki tulisan saya yang ternyata belum finished, biarkan saya berbagi kepada kamu mengapa menulis itu tidak gampang, tetapi bukan berarti menulis itu tidak fun untuk dilakukan. Check it out!

 

  1. Buat Premises. Apa sih premises itu? Tenang aja, saya juga baru tau kok. Premises secara singkat adalah inti dari cerita dalam satu kalimat. Misalkan tentang cinta terlarang. Perebutan harta keluarga Wijaya. Atau apalah. Singkat aja, satu atau dua kalimat aja.

 

  1. Buat sinopsis cerita bab demi bab. Ini bener banget ngenolongnya. Dulu saya suka meremehkan, yaudahlahyah, ngapain sih bikin sinopsis ini itu, urut-urutan ceritanya, ribet banget. Langsung nulis aja emang ga boleh? Boleh banget kok. Tapi kamu bisa buang-buang waktu muter-muter di satu hal yang sama, bab yang sama. Kalau kamu udah buat sinopsis, kamu akan gampang untuk menyelesaikan satu bab sebelum jump ke bab berikutnya.

 

  1. Buat daftar tokoh-tokohnya. At least berikan mereka nama. Supaya kamu gampang memainkan peran mereka. Berjalannya waktu kamu menulis, kamu akan semakin bisa menambahkan sedikit demi sedikit karakter mereka.

 

  1. Give it time. Nah, kalau memang mau serius nulis, berikanlah waktumu yang sibuk itu untuk bisa duduk diam dengan tenang, dan mulailah menulis. Mau sebaris, dua baris, separagraf, sehalaman, yang penting menulis. Nora Roberts bilang, “You don’t find time to write. You make time.” Dan saya paling sukaaaa banget sama kata-katanya Ernest Hemmingway yang bilang gini, “There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.” Bener banget! Kalau lagi ga punya ide. Just give a time, duduk manis depan laptop dan mulailah mengetik. Mulai mengetik! Apapun itu kata-kata yang ada dipikiranmu, ketiklah!

 

  1. Listen to your mood. Mood itu selalu datang dan pergi. Ketika mood untuk menulis sedang mampir di hati kamu, ketika ada sebuah panggilan dalam hati kamu yang minta kamu untuk nulis, dengerin itu dan mulailah menulis. Jangan menunda-nunda. Sekali kamu abaikan dan bilang, ah udahlah, selow, besok aja. Then, kamu ga akan pernah mulai nulis.

 

  1. Biasakan bawa catatan dan catatlah ide yang suka muncul tiba-tiba. It really helps. Biasakan jangan jauh-jauh dari buku catatan, dan ketika kamu tiba-tiba terlintas ide, langsung tuliskan di buku. Saat mentok ide atau ingin memulai menulis, mulailah dari catatan iseng yang kamu tuliskan di buku catatanmu itu. It works on me.

 

  1. Then, bleed. Play with your character and story. Enak banget loh.. Seru! You can make this person crying, or die, or married, or fall, or sleep. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau dengan karakter-karakter yang kamu ciptakan dan bisa tentukan ceritanya seperti apa. That’s the fun part of writing! Hanya ketika membuat cerita mengalir dari satu paragraph ke paragraph lain, janganlah stress.. Anggap saja tantangan. Karena buat saya yang terbiasa nulis catper, hal tersebut sulit sekali. Tapi lama-lama pasti biasa kok *facepalm*

 

  1. Temukan seseorang yang selalu memotivasi kamu untuk menulis. Saya bisa bilang, sampai sekarang saya suka nulis karena banyak yang bilang, “Dea nulis lagi dong.” Karena itu hargailah siapapun yang membaca tulisan kamu. Karena mereka kamu semakin bersemangat untuk menulis, right? Buat saya yang masih newbie dalam soal nulis serius, saya sering banget nanya-nanya dengan sesama teman penulis. Menemukan penulis lain yang terkesan “berlomba” bersama kamu dalam menciptakan tulisan demi tulisan, itu bukan kompetisi, itu malah bisa membantu kamu juga untuk terus berkarya dan menjadi kreatif.

 

  1. Banyak baca! Cuma penulis sombong yang ga mau baca buku. Kalau dia ga mau baca, ngapain dia punya ide buat nulis coba? hehehe. Biasanya akan inline kok, orang yang suka baca, keinginan untuk menulis buku sendiri pasti muncul dan koleksi bahasanya pasti lebih banyak.

 

Jadi, mari terus menulis walau tidak gampang.

Cheers,
Dea Sihotang

Disclaimer

Advertisements

11 comments

  1. Betull menulis itu susah. Kadang kita tulis, hapus lg. ampunn dahh. Sampe pernah baca blog nulia begini “dilarang copas, nulis itu gak segampang congor lo waktu bicara”. Kasar dan pedes sihh. Cuman itulah karya seni. Diciptakan susah tp di copy gampang. Semangat dea… Ditunggu novelnya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s