Menuju Puncak Rinjani bersama Lomba Blog Pegipegi

Semalam saya bermimpi. Dalam mimpi itu, jari jemari saya bergetar hebat ketika mengangkat selembar kain berwarna merah putih tinggi-tinggi. Mata saya merah dan basah karena air mata. Walau kaki saya lunglai karena rasa capek, namun keharuan dan kegembiraan memuncak dalam batin. Saya berada di puncak gunung Rinjani. Sang saka merah putih kebanggaan bangsa Indonesia berkibar-kibar tertiup angin kencang. Rasa haru muncul di dalam hati saya karena akhirnya bisa juga mencapai titik kedua tertinggi di bumi Indonesia. Keberhasilan untuk bisa menjejakkan kaki di angka 3,726 mbpl patut dirayakan dengan bergaya sepuasnya tanpa rasa malu-malu. Akhirnya salah satu impian saya untuk naik Rinjani bisa terwujud juga.

mountrinjani3

Sinar mentari pagi muncul. Mata saya pun terbuka dengan enggan. Sambil mengucek kedua mata, saya sadar bahwa momen mengharukan tersebut hanyalah mimpi! Rasa kecewa dan juga penasaran langsung menyerbu batin saya. Kenapa ini tiba-tiba mimpi naik Rinjani muncul dalam tidur saya? Usut punya usut, salah satu Lomba Blog #BukanSekedarTraveling yang diadakan oleh Pegipegi.com, Blog Detik dan Kementerian Pariwisata lah yang membuat alam bawah sadar saya bergerilya liar melewati jalan-jalan setapak gunung Rinjani. Dari Sembalun menuju Plawangan Sembalun, perlahan menuju puncak gunung, melewati danau kawah Segara Anakan, lalu melangkah pelan-pelan ke Plawangan Senaru sampai akhirnya mencapai desa Senaru. Ahh, alangkah indahnya kalau itu bukan hanya sekedar impian. Sebuah harapan tanpa malu-malu muncul di benak saya, sehingga menumbuhkan keberanian untuk mengikuti kompetisi ini. Siapa tahu, saya bisa dapat traveling gratis bareng Alexander Thian, lengkap dengan tiket pesawat, hotel dan akomodasi lainnya. Apalagi Rinjani terletak pulau Lombok, nah sekalian setelah pendakian Rinjani, kita juga bisa mengunjungi Lombok dan sekitarnya. Misalnya saja bercengkrama dengan penduduk Desa Sasak. Ahhh, surga! Coba deh lihat video ini, indahnya ga tanggung-tanggung…

 

Memang akhir-akhir ini, naik gunung di kalangan para pelancong muda Indonesia merupakan hal yang jadi semakin “biasa”. Walau, tentunya setiap perjalanan menuju puncak gunung bukannya suatu pengalaman yang biasa. Saya yakin, setiap pendaki pasti punya ceritanya sendiri-sendiri. Ketika mereka bersentuhan langsung dengan alam, melihat indahnya langit biru yang bersih dari polusi, menghirup segarnya udara sehat yang langsung menyerbu ke dalam paru-paru dengan riangnya, lalu pemandangan menakjubkan yang hanya bisa di nikmati oleh mereka yang berani melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman, menghadapi rasa takut akan ketidakmampuan berjalan di jalanan curam, melawan gelapnya malam, dinginnya hujan dan angin yang menusuk tubuh, sakitnya badan karena tidur beralaskan selembar matras lembab. Tetapi, itulah sensasinya. Kenikmatan tersendiri karena dapat melihat alam yang sempurna, langit bertaburkan bintang yang tidak malu-malu bersinar sepanjang malam, serta perasaan bangga karena dapat melawan ego diri sendiri.

 

Namun kegiatan naik gunung ini juga jadi terlalu mainstream belakangan ini. Karena semua pelancong ingin naik gunung. Entah apapun motivasinya, tetapi motivasi yang paling menyedihkan adalah karena ingin exist dan tidak ketinggalan trend traveling, lalu naik gununglah mereka tanpa persiapan yang matang. Tidak ada yang salah dari ikutan trend naik gunung. Bagus malah, jadi anak-anak muda bisa lebih sehat dan fit! Yang salah jika mental di daratan bawah, di bawa ke daratan atas. Tau kan, masyarakat di dataran bawah sering sekali menganggap buang sampah seplastik-dua plastik tidak masalah. Nah kalau mental ini di bawa saat mendaki gunung. Rasanya miris. Pernah tersebar informasi, bahwa gunung kita jadi kotor berantakan karena banyak puntung rokok, bekas botol minuman, plastik chiki dan cemilan lainnya, tertinggal begitu saja tanpa ada niatan untuk membawanya turun ke dataran bawah. Sikap seperti ini lah yang akan merusak alam Indonesia, keasriannya, kebersihannya yang alami, serta keindahannya. Padahal, jika setiap pelancong mau bahu membahu menjaga kebersihan, bukan hanya akan semakin banyak pelancong yang datang, tetapi juga, alam akan berterima kasih kepada pelancong tersebut dan akan memberikan keindahan pemandangannya yang tidak akan terlupakan.

 

Lalu Rinjani… Salah satu gunung tertinggi kedua di bumi Indonesia ini memang spesial. Trek nya yang sulit dan memakan berhari-hari untuk dapat mencapai puncaknya, sejujurnya membuat gunung ini memfilter sendiri siapa-siapa saja yang dapat menaikinya. Rasanya pendaki dadakan akan sulit bisa mencapai puncaknya jika tidak sering latihan fisik terlebih dahulu. Naik gunung kan bukan hanya gegayaan, namun ada keringat yang harus dikeluarkan, teknik mengatur perlengkapan agar dapat di bawa oleh bahu kita tanpa rasa sakit, pengaturan nafas yang tepat agar kepala tidak pusing dengan perbedaan elevasi yang drastis, dan lain-lain. Ahh banyak sekali persiapannya, tetapi tentulah sepadan dengan pengalaman dan pemandangan yang didapatkan.

rinjanilombok10

Semoga saja ketika betul saya bisa kesana, jalan setapak Rinjani tidak dipenuhi puntung rokok atau botol plastik bekas yang “ketinggalan.” Saya berharap Rinjani menerima saya untuk menikmati indahnya. Dan semoga saja, harapan traveling yang #BukanSekedarTraveling ini bisa terwujud karena Pegipegi.com.

rinjanivolcano9

Ahh, matahari sudah bersinar semakin tinggi. Waktunya saya berangkat kerja.

 

Salam ransel,
Dea Sihotang

Disclaimer : Semua photo di artikel ini di ambil dari http://rinjaninationalpark.com/ Terima kasih banyak untuk koleksi photonya yang begitu indah dan membuat saya tambah mupeng pengen ke Rinjani… 🙂

Disclaimer

 

 

Advertisements

12 comments

  1. semoga menang dhe asli itu keren abis dari desa sembalun nya , trek gokil nya , pelawangan nya klo sore , Puncak nya , segara anak nya.Huh ! Semangat!!!

    Like

  2. “Semalam saya bermimpi. Dalam mimpi itu, jari jemari saya bergetar hebat ketika mengangkat selembar kain berwarna merah putih tinggi-tinggi. Mata saya merah dan basah karena air mata. Walau kaki saya lunglai karena rasa capek, namun keharuan dan kegembiraan memuncak dalam batin.”

    Kok petikan kalimat-kalimat awal serasa membaca kisah horor ya. Tulisan mempengaruhi rupanya. hihihihi…. 😀

    Wah semoga dapet ya tiket trip selanjutnya dari pegi-pegi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s