Movie Review : Insurgent

Hore, akhirnya malam ini saya mengunjungi XXI lagi! Udah lama banget ga’ ke XXI setelah terakhir itu dengan rela hati mengeluarkan uang sendiri untuk sebuah film yang memang saya tunggu-tunggu selama setahun, yaitu The Hobbit : The Battle of the Five Armies!

 

Habisnya nonton di bioskop Jakarta akhir-akhir ini terasa mahaaaal sekali. Rasanya ga’ kuat kalau ngikutin gaya hedonisme kaum Jakarta, yang biasanya cepet banget nonton film A, B, C, D supaya di bilang super eksis. Buat saya sih itu ga penting. Tapi karena ini Insurgent! Yes, Insurgent movie releases!! kelanjutan dari Divergent Movie and part of the series of Divergent, sebuah genre film science fiction young adult, boleh lah kaki saya melangkah lagi ke XXI, merasakan lagi dinginnya temperatur ruangan bioskop, lembutnya karpet berwarna kecoklatan ketika melangkah di atasnya, dan suara keras dari test kuping pen’geng dari pengeras suara ber-merk Dolby Digital. Untungnya lagi, temen saya bayarin tiket saya. YES! *tertawa keras sekali*

 

Hore! Saya suka perasaan ini. Apalagi saya ga sabar pengen tau kelanjutan cerita Divergent!

movie-review-insurgent-011

Beberapa menit setelah duduk, mulai lah muncul adegan pertama film Insurgent, suara Jeanine, pemimpin dari Fraksi Erudite, musuh bebuyutan Tris dan Four serta para Divergent lainnya, terdengar membahana di seluruh kota. Jeanine membalikan fakta dan mempropaganda kebenaran yang ada, bahwa serangan di Fraksi Abnegation dilakukan oleh para Divergent. Oleh karena itu Tris, Four, Peter dan Caleb, saudara Tris, menjadi buronan seluruh fraksi. Semua orang berpendapat bahwa para Divergent harus dimusnahkan. Mereka pun bersembunyi di dalam desa Amity, karena Fraksi Amity terkenal dengan kebaikan dan pengampunan. Mereka menerima para Divergent ini sebagai tamu. Namun, karena perbedaan yang besar antara para Amity dan Divergent serta perkelahian antara Tris dan Peter, Amy sebagai pemimpin Amity merasa khawatir bahwa Fraksinya akan merasa tidak tenang dan meminta mereka untuk pergi.

 

Di tengah pertentangan akan permohonan waktu tambahan agar mereka diijinkan tetap tinggal di Amity, tiba-tiba Eric dan para Dauntless suruhan Jeanine tiba di Fraksi Amity. Mereka membawa sebuah alat deteksi Divergent dan memaksa semua orang untuk berbaris sehingga dapat dilakukan pengecekan satu per-satu apakah mereka Divergent atau tidak. Ini sesuai dengan perintah Jeanine agar membawa seluruh Divergent kepada Erudite. Hal tersebut karena ditemukannya sebuah kotak dari pencipta Fraksi, dan hanya seorang Divergent terpilihlah yang dapat membuka pesan di kotak tersebut.

 

Adegan dilanjutkan dengan perjuangan para Divergent untuk lari dari kepungan Dauntless, seperti biasa, Tris dan Four memberikan penampilan fisik yang sempurna, dan Caleb, yang memang tidak terlahir sebagai Dauntless terlihat begitu payah saat berusaha lari dari tembakan para Dauntless. Kejadian demi kejadian pun berlanjut.. Yang sebaiknya kalian langsung tonton ya 😀 Nanti saya digebukin seluruh jagad raya kalau terus-terusan kasih spoilernya…

“Sometimes, you don’t realize your own strength until you come face to face with your greatest weakness.” – Susan Gale

 

Tetapi biar saya sampaikan apa yang saya rasakan tentang film ini. Bagus. Satu kata itu cukup untuk meyakinkan kamu merogoh kocek buat pergi nonton film ini ke Bioskop. Saya suka ide dari Veronica Roth mengemas cerita ini, mengemas emosi para manusia di dalamnya, latar belakang dan isi pikiran mereka. Tris Prior harus mengalahkan ketakutannya dan hati yang cenderung lemah dan penuh keraguan. Lalu Four yang mempunyai masa lalu yang pahit oleh karena faktor orang tuanya. Serta pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat Tris. Lalu rasa dendam. Karena secara natural, manusia adalah mahluk pendendam, namun juga bisa menjadi seorang pemaaf. Secara garis besar, saya kagum dengan pemikiran Roth memainkan emosi manusia dan imajinasinya akan dunia para Fraksi ini.

 

Shailene Woodley memaniskan film ini dengan tampangnya yang cute namun teguh, dan chemistry yang kental antara dia dan Four, Theo James, lawan mainnya dalam film ini. Menurut saya wajah Theo James bukan sosok wajah yang ganteng, namun penampilannya yang manly pantas mendatangkan decak kagum dari para penonton wanita. Di saat penonton pria ternganga kagum dengan ketrampilan Shailene memainkan peran sebagai seorang gadis lembut namum pemberani! Yayyy, and she is more cute when she cuts her hair. Don’t you think so?

movie-review-insurgent-02

Let me know what you think about this movie 😉

Cheers,
Dea Sihotang

Disclaimer

Advertisements

5 comments

  1. Waaaa kak Dea, aku suka sekali dengan tulisan-tulisannya, especially your trip to prague :D. Aku juga penggemar sekuel Roth dan bela-belain nonton midnight sendirian dan jadi orang freak karna gak bisa nahan treakan kalau si four mulai tampak charming 😀 Nice to find your blog kak, i’ll keep reading ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s