Ketika Gunung Gede Memanggilmu

A tribute for Andi Prasetyo

 

Siapa sangka ketika sebuah ajakan iseng yang berubah menjadi persiapan serius untuk ke Gunung Gede menjadi perjalanan terakhir kita bersama?

Ya, tidak ada yang menyangka. Sebuah kenyataan yang sulit diterima. Bahkan sampai saat ini, ketika hati masih terasa ngilu saat mengetikan kata demi kata pagi hari ini.

 

Kamis malam itu, kita masih bertemu sapa. Bahkan Icha spesial datang untuk bertemu kita, walau dia tidak bisa ikutan mendaki gunung Gede bersama-sama, tapi dia niat bertemu untuk menemani kita belanja. Pertemuan kita pun bukan hanya untuk bertukar sapa basa-basi, tetapi itu adalah sebuah pertemuan yang menyenangkan bagiku walau mungkin tidak bagimu. Karena memang siapa sih laki-laki yang suka berbelanja makanan di Carrefour? Namun seandainya kegiatan tersebut dianggap cukup rempong bagimu, kamu tidak berkata sepatah apapun.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-9Aku dan Icha.

Seandainya kamu tidak menyukainya pun, hal itu tidak terlihat di wajahmu atau tidak terungkapkan. Yang pasti saat itu, kamu mengikutiku dengan sabar saat aku sibuk berpikir apa-apa saja yang perlu dibawa dan meraih berbagai macam makanan untuk bekal pendakian kita ke gunung Gede esok hari.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-7

Para laki-laki sedang sibuk memilih gas.

 

“Logistik jangan banyak-banyak woy!” kata Indra temanku. Karena memang, banyaknya logistik akan menambah berat beban bawaan kami. Tapi dasarnya aku juga ga mau sampai kelaparan di atas gunung sana, aku tetap ngeyel mengambil ini dan itu.

“Emang ada suggest apa?” tanyaku ke Indra di telpon.

“Ubi bakar aja bro,” jawabnya sekenanya.

Aku menjulurkan lidah kepadanya. Buatku, persediaan makanan sangat penting. Walau menurut Andi, semenjak aku ikut naik gunung dalam tim, gaya makanan jadi berubah drastis. Kami jadi sering memasak spaghetti lengkap dengan saus bolognaise, daging dan kejunya. Yah namanya juga ada perempuan.

 

Aku menengok ke arah Andi, “Ndi, nyobain bikin bakwan yuk?” kataku sambil mengambil beberapa tepung bakwan. Kebayang dong bakwan yang baru matang, mengepul di udara dingin lalu di tambah teh hangat, pasti enak banget. Andi ketawa-ketawa melihat ide-ide yang muncul. Bahkan Fahmi berniat memasak nasi dan sayur asem.

“Duh, kalau yang itu, gue ga ikutan masak ye,” kataku membayangkan repotnya menanak nasi di atas gunung.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-8Muka masih berseri-seri karena membayangkan pendakian yang seru bersama-sama.

 

Iya, mempersiapkan logistik memang seperti sudah jadi “tugas” biasaku di setiap pendakian kita bersama.

Namun kali ini istimewa, karena kamu sampai turun tangan untuk ikut menemani berbelanja.

Tidak ada tanda apa-apa dari kamu saat itu…

 

Jumat malam itu, perjalanan pun di mulai.

Tetapi sebelumnya, kita berencana untuk berkumpul di kantormu terlebih dahulu. Cek barang-barang dan packing keril dengan benar. Karena kalau keril sampai berbentuk padat aneh tidak semestinya, pendaki juga yang akan merasa keberatan selama perjalanan nanti. Biasanya temanku Gepeng akan mengecek keril-keril dan mulai merapikan packingan yang sebelumnya berantakan. Inilah salah satu alasan mengapa aku selalu merasa aman setiap mendaki gunung bersama mereka. Bukan hanya saat berjalan aku ditemani, namun saat persiapan pun, aku diarahkan. Dipastikan agar segala sesuatunya betul dan tidak akan merepotkan diri sendiri nantinya. Apalagi aku, si miss jinjing rempong, ada ada saja jinjingan yang merasa “harus” di bawa. Biasanya Gepeng akan teriak-teriak.. “Inget ya, pantang hukumnya bawa jinjingan saat mendaki.”

Biasanya aku akan meringis cengengesan karena tau siapa yang dia maksud, hehe.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-10ketika-gunung-gede-memanggilmu-19

Persiapan kami malam itu…

Aku yang tidak pernah tahu dimana kamu bekerja setiap harinya, saat itu hanya bisa bersabar menunggu seseorang yang akan menjemputku di depan pasar Mayestik. Beberapa menit setelah aku mengabarkan kedatanganku, ternyata kamu yang langsung menjemputku. Tumben, pikirku terheran. Karena kemarin yang terucap adalah kamu akan meminta tolong teman sekantor untuk menjemput. Teman sekantor yang kebetulan juga berbelanja bersama-sama sehingga wajar saja rasanya rencana tersebut, karena kami telah saling mengenal muka.

Namun kamu hadir disana, dengan kemeja kerja putih keabuan yang nantinya kamu gunakan juga dalam pendakian malam nanti.

Itu adalah kali pertama aku naik motor bersamamu, dan juga kali terakhir.

 

Pukul sepuluh malam. Kami pun bersiap-siap berangkat. Setelah Emma, Gepeng dan Indra datang melengkapi formasi tim. Tim yang berisi 11 orang tersebut, terbagi dalam dua kendaraan. Kami memulai perjalanan dengan hati riang gembira. Siapa yang tidak gembira jika akan memulai sebuah perjalanan bersama teman-teman terkasih? Sudah terbayang serunya mendaki gunung Gede bersama-sama. Aku sendiri sangat antusias karena ini adalah kali pertama aku menaiki gunung Gede. Antusias karena akan melihat hijaunya alam lagi, menghirup segarnya udara bersih lagi, melihat birunya awan di atas gunung. Walau di dalam hati cukup was-was karena kondisi tanganku yang baru saja di operasi seminggu sebelumnya dan rumor yang beredar tentang dinginnya gunung Gede.

 

Karena terlalu khawatir akan hebatnya dingin malam nanti dan tidak ingin merepotkan teman-teman, aku membekali diriku sendiri dengan dua jaket tebal. Plus aku memohon kepada temanku Emma, untuk dapat menemani pendakian kali ini, karena hanya aku saja perempuan yang ada di dalam tim. Tidak masalah kalau kondisiku fit sempurna, namun dengan sebelah tangan tidak berfungsi secara semestinya, tentu akan sangat repot. Dan nightmare terbesar dari pendakian perempuan sendirian adalah saat hendak pipis di malam hari, coba siapa yang menemani? Emma memang berencana untuk berangkat pada awalnya, namun karena suatu hal dia membatalkan rencana tersebut. Tetapi mendengar permintaanku, akhirnya dia mengiyakan.

 

“Kenapa sih Emma ga mau ikut?” tanya Andi kepadaku saat kami duduk bersama-sama di lantai dua kantornya. “Dia khawatir ga nyampe puncak?” tanyanya lagi.

Aku menganggukkan kepala mengiyakan.

Naik gunung memang butuh tenaga ekstra, tak jarang orang yang menolak atau menjauhi kegiatan naik gunung karena rasa capek yang muncul akibat aktifitas outdoor ini.

Hallah, nanti kan juga kita tungguin bareng-bareng,” jawab Andi dengan gaya cueknya. “Kaya ga kenal siapa kita aja,” tambahnya lagi. “Mana pernah sih kita ninggalin orang di gunung, apalagi teman satu tim.” Memang, itu prinsip dia. Prinsip yang diajarkan berkali-kali kepada kita, ‘Pendaki yang hebat bukanlah pendaki yang dapat mencapai puncak terlebih dahulu, namun mereka yang bisa menahan ego nya dan memastikan teman-temannya aman saat berjalan bersama-sama.’ Itu katanya berkali-kali.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-12

Mobil pun bergerak, Deden yang menyetir. Sepanjang perjalanan aku sudah mewanti-wanti diri sendiri untuk bisa tidur, walau agak susah karena perjalanan dari Jakarta ke Cibodas tidak terlalu jauh. Nanggung secara waktu. Karena kami tiba di Cibodas baru pukul 2 pagi. Itu pun kami sudah berhenti sebentar di tengah jalan untuk mengisi perut. Entah apa istilahnya untuk makan malam pukul 1 pagi hari. Karena sebelumnya kami juga sudah makan. Tetapi namanya perut, ada-ada aja minta di isi, apalagi kami tau kami harus mengisi perut untuk mendapatkan energi tambahan.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-11Saksi photo terakhir kamu bersama dengan kita.

 

Sepanjang perjalanan terdengar suara Andi mengobrol dengan Deden. Percakapan mereka seperti menjadi alunan pengantar tidurku dan teman-teman yang lain. Macam-macam yang diobrolkan, karena mereka berdua adalah teman kerja yang sudah lama saling kenal. Deden telah bekerja selama 7 tahun, Andi hampir 10 tahun. Tentunya banyak hal yang telah mereka alami bersama-sama sebagai bahan perbincangan yang tak pernah habisnya.

 

Berkali-kali aku tertidur, berkali-kali juga aku terhentak, terbangun dengan kepala cukup pusing karena tidur yang tidak nyaman.

“Elo ga gantian sama Indra nyetirnya, Den?” tanya Emma. “Gue pikir Indra bakalan nyetir,”

Kami semua tertawa karena mengingat pengalaman kami saat road trip Jawa Timur yang kami alami setahun sebelumnya. Indra memang sempat menyetir sesaat waktu itu.

“Wah kapan kita road trip lagi nih?” tanya Andi.

Aku yang selalu berantusias untuk jalan-jalan langsung saja mengambil kesempatan itu.

“Yuuuk!!! Kapan?! Aceh yuk ‘Ndi!” ajakku antusias. Inilah kami, belum juga satu perjalanan selesai, kami sudah bermaksud merencanakan perjalanan lainnya. Karena antusias untuk pergi bersama.

“Kemana?” tanya Andi.

“Aceh yuk, kita road trip start dari Medan…” kataku.

“Yuk, kapan ya?…” tanyanya.

Sebuah pertanyaan yang ternyata hanya bernasib sampai disini.

 

 

Di Cibodas, kami berhenti sebentar untuk menyusun langkah selanjutnya. Awalnya kami hendak menyewa angkot yang akan membawa kami ke pos Putri, namun setelah mengetahui bahwa mobil dapat di parkir dengan biaya Rp. 250,000/2 mobil/2 hari, kami pun memutuskan untuk parkir di Putri saja sehingga kami naik lagi ke mobil dan berangkat dari Cibodas ke Putri.

 

Sampailah kami di pos awal pendakian dari jalur Putri. Tidak seperti biasa, Andi yang biasanya santai dan selow, meminta kami untuk buru-buru berangkat. Bahkan rencana kami untuk merapikan packingan logistik diminta di tunda saja, sampai kami sudah tiba di atas. Dengan mata mengantuk, kami mulai melangkah menuju pos Putri untuk melakukan pendaftaran.

 

“Kak, tumben banget elo pake sepatu!” seru Gepeng ketika melihat Andi membuka plastik dan mengeluarkan sepatu gunungnya.

Aku sendiri melihat ke kaki, hanya sendal gunung yang membalut kedua tapak kakiku.

Weits, sepatu ganteng musti di pake,” guraunya. Kami melihat Andi terheran-heran, karena memang biasanya dia tipe orang yang sangat cuek. Kaki beralaskan sendal saja sudah membawa dia menaiki puluhan gunung di Indonesia. Sendalnya sendal spesial. Sendal jepit Swallow. Dan herannya, selalu saja dia tidak pernah dihinggapi pacet disaat semuanya tidak luput dari hisapan hewan kecil menyebalkan tersebut. Tumben banget kali ini dia mengeluarkan sepatu gunung kesayangannya.

Med (Medical) check, peng” kata Andi.

“Udah lengkap kak, nih Oksigen tolong bawain,” kata Gepeng sambil melempar botol Oksigen ke Bhisma yang masih mempunyai space di kerilnya.

 

“Yuks berdoa dulu sebelum kita berangkat,” kata Andi. Kami pun membentuk lingkaran bersama-sama. “Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing di mulai…” pimpinnya. Beberapa saat, kami semua terdiam dengan hikmat.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-13

Hari masih gelap ketika kami melangkah naik. Karena kondisi tanganku dan adanya bantuan dari seorang volunteer bernama Iman dari Gunung Gede Pangrango Organization(GPO) yang ikut naik bersama kami, jadilah aku bebas barang bawaan. Punggungku tidak membawa tas apapun. Nafas dan keseimbangan pun bisa ku atur dengan baik, walau harus melewati jalan sepi yang cukup licin karena curah hujan sebelumnya. Sisi kiri kami ternyata adalah kebun bawang. Ribuan bintang menemani perjalanan kami. Beberapa kali kami melakukan break untuk menarik nafas karena jalanan cukup menanjak dengan hebat.

 

“Emma, yakin ga mau tukeran bawa tas?” ucapku menawarkan bantuan.

“Nanti Dea, sekarang gue masih kuat,” katanya menolak bantuanku.

Oke, aku meneruskan perjalanan. Dan sepanjang jalan berikutnya, Emma masih menolak tawaran bantuanku. Aku pun memfokuskan diri untuk tetap bisa mengatur nafas sembari menikmati pemandangan. Gelapnya malam telah berubah sedikit demi sedikit menjadi semburat terang pagi hari. Matahari mulai menunjukkan sinarnya dari sela-sela dedaunan. Aku bernafas lega, udara pagi memberikan aroma segar yang berbeda. Aroma pagi hari yang hanya bisa dihirup saat berada di tengah hutan lebat. Oksigen yang bebas dari asap kendaaraan bermotor.

 

“Perut gue kok ga enak ya,” kata Andi kepada kami.

“Coba di kasih minyak telon terus kalau masih ga enak juga, dimuntahin deh,” saran Emma.

Andi mendengarkan saran tersebut karena beberapa saat kemudian, dia menjauh dari kami dan muntah.

Hah, Andi muntah? pikirku heran. Baru kali ini aku melihat dia muntah seperti itu di depan kami. Malahan perjalanan terakhir kami kemarin di Situ Gunung, aku lah yang muntah sampai seplastik karena masuk angin!

“Enakan kak?” tanya Gepeng. Andi menganggukkan kepala dan mulai duduk beristirahat.

“Gue duluan ya,” kata Indra sambil tetap memanggul kerilnya. “Gue akan tunggu kalian di pos 1, gue pengen tidur di sana aja,” katanya lagi.

“Gue ngikut ‘Ndra,” sahutku sambil melangkah di belakangnya.

Ini adalah saat dimana aku dan Indra berjalan pelan-pelan ke atas melewati jalur tanjakan yang rasanya minta ampun. Tambah luar biasa buat Indra karena kakinya masih dalam masa pemulihan dan beban berat yang dibawanya.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-14

Baru saja kami sampai di pos 1, sepuluh menit kemudian muncullah teman-teman kami yang lainnya. “Lah, kalian yang cepet banget, apa gue yang lambat banget?” kata Indra heran, karena memang beberapa saat sebelumnya, kami tidak melihat mereka berada di belakang kami.

 

ketika-gunung-gede-memanggilmu-15

“Kak, elo minum teh hangat pakai tolak angin ya,” kata Gepeng sambil membuka kompor dan menyalakan api.

“Gue bawa tumbler tuh, buat gelas,” ucapku sambil mencari tumbler di dalam keril. Gepeng mengisinya dengan teh panas yang lalu di minum Andi.

“Gila baru sampai pos 1 aja udah dingin banget gini!” seru ku sambil menggosok-gosokan tangan. Kakiku yang sudah terbungkus kaus kaki tetap saja masih terasa dingin. Bulan April seharusnya sudah mulai masuk musim panas, namun masih saja curah hujan bisa datang tiba-tiba. Rasa panik muncul dalam hatiku ketika membayangkan dinginnya di atas sana nanti. Namun secara bersamaan, rasa heran juga muncul di pikiranku melihat begitu banyak pendaki pada hari itu. Rasanya arus manusia tidak ada habis-habisnya berjalan dari bawah sana, melewati pos 1. Banyak yang dari mereka memilih untuk beristirahat sebentar, yang lainnya langsung melanjutkan perjalanan.

 

“Rame banget ini gunung. Kaya pasar aja. Ga masuk di akal,” dengus ku dengan rasa bete.

Kami semua melihat orang-orang yang hilir mudik tersebut. Ada sedikit rasa malas melihat lautan manusia yang membawa bermacam-macam keril. Kejanggalan yang luar biasa untuk kategori pendakian gunung. Bahkan, mendaki gunung saja bisa jadi sebuah tren masal yang temporari.

“Tidur aja dulu yuks bentar,” ajak seorang teman. Memang satu per satu dari kami langsung memilih tempat masing-masing untuk bisa rebahan dengan enak. Aku sendiri menggelar yoga mat yang selalu beralih fungsi saat naik gunung begini. Indra tertidur dengan pulas di sebelahku. Mataku ngantuk, tapi telingaku masih mendengar beberapa percakapan yang simpang siur di sekeliling kami, salah satunya adalah percakapan antara Iman dan Andi, kebetulan (entah ini kebetulan atau tidak) mereka sedang membicarakan seorang pendaki yang meninggal di gunung Gede tahun lalu. Itu karena melihat banyaknya pendaki gunung belakangan ini, kekhawatiran kami adalah banyak dari mereka yang naik tanpa persiapan, hanya mengikuti tren, biar eksis, padahal perlengkapan kurang.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-17

Sambil mengantuk aku mendengarkan percakapan Andi dan Iman. Sambil sesekali memberikan komentar agar mereka tahu bahwa aku juga mengikuti percakapan mereka. Ketika mendengar kisah-kisah para pendaki yang meninggal di gunung, aku tercekat dan cukup masygul hati rasanya.

“Namanya juga maut ya, kapan dia datangnya, kita mana tahu. Kalau sudah waktunya datang, pasti datang,” kata Andi, matanya menatapku. Sebuah tatapan yang dalam namun ku anggap biasa saja. Tanpa sadar bahwa mungkin tersirat pesan di baliknya.

Lalu tanpa sadar kemudian aku tertidur, karena mataku terasa berat sekali rasanya.

 

“Bangun, kita lanjut yuks,” sebuah suara membangunkanku dari tidur ayam sekejap tersebut.

Kami pun terbangun dan membereskan barang-barang.

“Yakin ga mau buat tenda aja disini?” guyon Fahmi melihat begitu banyaknya manusia yang masih berjalan mendaki.

“Ayok, Surken menanti!” Andi meraih tasnya dan mulai berjalan.

“Tunggu kita yel-yelan dulu dong,” ajak ku. “Jangan ‘kasus’ lagi macam tadi pagi!” lanjutku kemudian. Kami pun mulai menyatukan tangan.

“SAMBERRR!!!” seru kami beramai-ramai.

Sayang kami tidak mengambil photo bersama saat itu.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-18

“Tunggu bentar, ini tenda ribet bener, kita iket dulu aja di keril biar gampang di bawa,” kata seorang teman. Rombongan pun berhenti. Beberapa teman mencoba mengikat tenda di keril. Yang lainnya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat.

“Kak Andi, tas elo gue bawain aja sini,” kata Gepeng. Wajah Andi memang terlihat pucat saat itu.

Awalnya Andi menolak, namun kami beramai-ramai menganjurkan agar dia menyerahkan tasnya ke Gepeng.

“Udah, kasih Gepeng aja ‘Ndi. Santai aja. Ini kan kita lagi refreshing. Jalan santai bareng-bareng,” kata teman kami. Akhirnya Andi pun mengiyakan dan memberikan tas daypacknya ke Gepeng. Saat aku menawarkan bantuan, Gepeng menolak, “Udah, biar laki-laki aja yang bawa.” Begitulah, aku dan Andi terbebas barang bawaan saat itu.

Dengan stick gunung tetap di tangannya, Andi pun mulai melangkah kembali ketika tenda telah selesai di ikat dengan baik di keril Regi.

“’Ndi, kok elo cepet-cepet bener jalannya,” tegurku saat melihat Andi memimpin grup kami di depan. Namun memang langkah kakinya cepat, tidak seperti biasanya. Aku yang berada tepat di belakangnya berusaha mengimbangi kecepatannya.

Andi berhenti sebentar, membalikkan badannya dan melihat ke rombongan grup.

Nafasku tercekat melihat wajahnya. Terlihat begitu pucat hingga memutih.

“’Ndi, elo minum air gih, muka elo pucat banget tuh,” seru ku.

“Iya, ntar aja,” katanya. “Pas break di depan.” Sambil kemudian melanjutkan perjalanan lagi ketika dilihatnya seluruh teman-teman sudah mulai menghampiri kami.

 

 

Selang beberapa menit kemudian, kami melihat tanah datar, keril pun kami turunkan karena kami ingin beristirahat. Sengaja memang kami tidak mau terburu-buru berjalan. Aku masih mendesak Andi untuk minum.

“Air mana air?” tanyaku yang kemudian disambut dengan sebuah botol minum dari tas Indra. Emma yang memberikan botol itu kepadaku.

Andi meminum air tersebut. Tidak terlalu banyak. Dia duduk menarik nafas panjang.

“Ndi, makan madu gih, buat tambahan energi,” kataku menyarankan.

“Ada yang punya madu ga?” tanyaku lagi kepada teman-teman.

“Ada nih!” seru Regi sambil mengeluarkan dua buah madu sachet dari tas nya. Aku memberikan madu tersebut ke Andi, karena sachet tersebut saling melekat satu sama lain, sehingga aku meraih satu sachet lainnya, merobek plastiknya dan memberikan ke Gepeng. Aku melihat Andi mencoba membuka plastik madu tersebut dengan jemarinya.

“Madu rasa apa nih?” tanya Gepeng yang disambut dengan tawa anak-anak.

“Peng, peng, emang madu rasanya apa,” sahut seorang teman. Entah mengapa, saat itu kami begitu geli mendengar pertanyaan Gepeng tersebut. Padahal wajar saja, karena memang saat ini sudah banyak tambahan rasa pada madu, seperti lemon dan lainnya.

 

“De, photoin gue dong,” kata Bhisma yang melihat tanganku memegang handphone.

“Oke, bentar Bhis’” kataku sambil membalikkan badan. Posisiku membelakangi Andi yang masih mencoba mengecap madu ditangannya.

Klik, satu jepretan photo terbuat.

Saat hendak menjepret satu lagi, tiba-tiba, “Ngiiiinggg…”seekor tawon terbang disekitarku. Aku berusaha menghindari sengatannya sehingga aku menggeser badanku ke sisi kiri. Baru saja beberapa detik aku berdiri membelakangi Andi, tiba-tiba sebuah kilasan tubuhnya yang jatuh terlihat oleh ujung mataku.

 

Andi jatuh tersungkur ke tanah. Dahinya langsung menyentuh tanah.

Aku terkaget. Kami semua terkaget.

Sekitar sepersekian detik, tidak ada seorang pun yang bergerak karena pemandangan tersebut.

Andi jatuh! Dia ga pernah bercanda macam begitu!!

Lalu terdengar teriakan melengking yang akhirnya menyadarkan kami semua dari kekagetan sepersekian detik kami itu.

“Kak Andiiiiiiiiiii……………!!!!” teriak Gepeng sambil bangkit dan berlari meraih tubuh Andi.

Tangannya terkepal. Kedua tangannya terkepal dengan begitu erat. Madu sachet tadi terlihat tergeletak sembarangan di tanah. Terlempar saat dia jatuh tadi.

Kakinya mengenjang. Aku melihat urat pergelangan kakinya tertarik dengan begitu kuat. Seperti dia menahan rasa sakit.

 

Bagai tersadar dari sihir, kami semua pun langsung beramai-ramai menghampiri Andi. Kami mengangkat tubuh kurusnya ke sebuah matras yang langsung ditebarkan oleh seorang teman.

“Hati-hati!”

“Kakinya, kakinya!!”

“Andi, bangun Andi!”

“Kak Andiiii”

“Lepas sepatunya!”

“Minyak kayu putih mana? Panasin tangan dan kakinya!! Bikin badannya tetap hangat”

“Oksigen mana oksigen!”

“Nyalain kompor, bikin air panas”

“Cepat! Cepat!!”

Seruan panik terdengar bertubi-tubi di udara.

 

Kami semua panik. Kejadian ini begitu cepat. Baru saja kami melihat dia mengulurkan tangan menerima se-sachet madu yang hendak dimakannya. Tiba-tiba dia telah tersungkur tidak sadarkan diri di tanah.

Matanya membelalak seakan melihat sesuatu yang mengejutkannya. Tapi masih terdengar denyutan pelan nadinya. Gepeng berteriak panik berusaha menyadarkan Andi.

“Kak Andi, bangun dong” kata Gepeng tanpa lelah.

Beberapa pendaki lain yang lewat melintasi kami, melihat kejadian tersebut dan berpartisipasi dengan memberikan oksigen, selimut alumunium foil, obat-obatan.

Kami panik.

Kami merasa sendirian saat itu dan tidak berdaya.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika melihat teman kesayangan kami terkapar seperti itu.

 

“Turun ke bawah cepat, panggil evakuasi.” Iman dan Bobby langsung turun ke bawah untuk memanggil tim GPO.

Kami masih tetap berusaha menyadarkan Andi, memanggil-manggil namanya. Berharap ini semua hanya candaan yang tidak lucu. Lalu dia membuka matanya, menggerakkan tangannya, dan berkata, “Wahahaa, kalian semua tertipu!” lalu cengegesan lagi seperti biasa.

Tapi tidak. Dia tidak bergerak. Bahkan tubuhnya semakin menguning.

Aku takut. Sangat takut.

Ya Tuhan, please, please, aku mohon dengan sangat. Selamatkan temanku ini.

 

Tiba-tiba seorang pendaki perempuan yang sedang memanggul keril melihat kami. Dia langsung menaruh tasnya dan berkata, “Saya dokter, cepat naikan kakinya. Kasih bantalan di lehernya supaya kepalanya mendongak,”

Kami semua dengan patuh mengikuti instruksinya.

Dokter ini pun memulai pertolongan pertama dengan melakukan CPR dan pemberian nafas buatan.

“Sudah berapa lama ini terjadi?” tanyanya.

“Kira-kira sepuluh menit dok,”

Dia lalu melihat jam tangannya, menghitung dan terus melakukan CPR dan nafas buatan.

Aku yang berada tepat didepannya hanya bisa berharap-harap cemas.

Tuhan ya Tuhan, tolong jangan bercanda di masa seperti ini.

Tolong bangunkan temanku ini Tuhan, pikirku dengan panik dan sedih. Hatiku sakit melihat Andi seperti itu. Air mata mengalir dengan deras dari pelupuk mata kami semua. Tadinya kami tidak mau percaya bahwa ini kejadian serius. Mana mungkin Andi yang tadi masih berjalan bersama kami, berbicara dengan kami, bercanda dengan kami, sekarang tergeletak tidak berdaya seperti itu.

Tuhan, please, Tuhan, please…

 

Aku mencoba meraba denyut nadinya. Sambil terus meneriakkan kalimat-kalimat penguatan untuk Andi.

“Bertahan ‘Ndi, bangun ‘Ndi, jangan pergi ‘Ndi. Kita kan mau ke Rinjani bareng ‘Ndi. Kita kan mau ke road trip lagi. ‘Ndi bangun ‘Ndi, jangan bercanda gini, jangan hilang gini Plek…” suaraku dari yang tadinya keras semakin lama semakin pelan. Hampir putus asa.

Menit demi menit berlalu dengan begitu lambat.

Aku marah, marah karena tidak ada reaksi apapun dari tubuhnya. Berapa kali pun dokter mencoba memberikan CPR. Bahkan temannya ikut membantu karena dia terlihat mulai kelelahan memberikan CPR.

Setelah 20 menit, dokter menatap mata kami. Tatapan mata yang tidak ingin aku lihat. Karena aku tau apa yang akan dia ucapkan selanjutnya.

“Yang sabar ya. Mohon maaf teman kalian sudah tidak ada.”

Indra, seorang adik kelas dan juga teman yang begitu dekat dengan Andi, langsung menangis meraung mendengar kalimat tersebut.

Pecah tangis kami semua . Ketidakpercayaan masih memenuhi pikiran kami.

Ga mungkin, itu totally ga mungkin banget!

Setengah jam lalu dia masih di situ! Setengah jam lalu kami masih membicarakan tentang hidup dan guyonan ga penting lainnya. Setengah jam lalu dia masih memarahi Fahmi karena terus mengajaknya bercanda di saat dia tidak ingin bercanda.

Andi, masa sih kamu meninggalkan kami secepat ini?

Di sepersekian detik yang vital ini.

Sepersekian detik yang menentukan kamu tetap ada atau menghilang. Menghilang ke dunia lain yang tidak bisa kami jangkau saat ini.

 

Dokter hendak menutup wajahnya dengan jaket Ubuntu coklat milik Bhisma. Aku melarangnya.

“Boleh ‘kah wajahnya jangan di tutup dulu Dok?” tanyaku memelas. Mungkin dia mendengar kesedihan mendalam di suaraku karena dia akhirnya menyingkirkan jaket tersebut. Sehingga kami bisa menatap wajahnya yang terlihat seperti tertidur pulas. Iya, mungkin ini semua mimpi. Lalu ketika kita bangun bersama-sama, kita akan tertawa kembali bersama-sama.

 

Tapi kemudian Dokter bersikeras untuk mengikat tangannya dengan kain perban. Saat tangan terikat, kami masih bisa menahan diri. Namun ketika akhirnya kain perban tersebut mengikat wajahnya dari kepala hingga dagu agar bentuk wajahnya tetap terlihat baik, kami langsung menangis mengharu biru. Ya Tuhan, tolong kasih tau kami, kenapa ini harus terjadi ya Tuhan…

 

Masih ku ingat saat dahinya menyentuh tanah gunung Gede.

Tanah gembur lembab yang biasa dipijaknya. Yang dicintainya. Yang selalu ingin ditengoknya.

Setidaknya kamu menghembuskan nafasmu yang terakhir di tempat kesukaanmu, ‘Ndi. Ini seperti mengantarkan kamu ke tempat peristirahatan terakhirmu.

Kenyataan ini sedikit menghibur kami, walau tidak banyak. Karena yang kami inginkan adalah kehadiranmu bersama kami menaiki gunung demi gunung lainnya di Indonesia. Tidak meninggalkan kami sendiri seperti ini.

 

Aku teringat saat pertama kali kita bertemu. Ujung Kulon, November 2012. Siapa yang sangka, perjalanan trip murah yang saat itu aku ikuti bersama Emma dan Bhisma, akhirnya menciptakan hubungan pertemanan di antara kita. Kamu mengajari aku untuk mencintai gunung. Untuk pertama kali memiliki kepercayaan diri menaiki gunung Rakutak yang hampir saja mematahkan semangatku untuk maju. Kamu mengajari aku untuk melihat sisi keindahan Papandayan. Gunung Papandayan yang akhirnya selalu kurindukan. Hingga kamu berkata, “Jarang banget Dea mau ke satu tempat yang sama berkali-kali.” Sebetulnya bukan hanya karena indahnya Papandayan, tetapi karena aku selalu merasa aman ketika berjalan bersama kamu dan teman-temanmu. Aku yakin, kita memulai bersama, maka kita akan mengakhiri bersama-sama.

ketika-gunung-gede-memanggilmu-5Andi (paling kiri), orang pertama yang mengenalkanku indahnya naik gunung. Ini kami waktu di Rakutak.

 

Tetapi kali ini beda, karena kamu mengakhiri ini sendirian. Tanpa tanda-tanda sedetik pun bahwa perjalanan kita ke gunung Gede adalah perjalanan kita yang terakhir. Betapa bersyukurnya aku karena tidak jadi membatalkan keikutsertaanku dalam pendakian ini. Walau aku sempat khawatir dengan kondisi tanganku, tetapi di lubuk hati, aku ingin sekali ikut ke gunung Gede kali ini. Entah kenapa susah sekali terucap kata untuk “batal” walau seandainya hanya aku sendirian perempuan yang akan berada di tim. Aku merasa perjalanan ini akan menjadi sebuah kisah penting yang tidak boleh dibatalkan. Ternyata betul. Kamu memberikan kami kesempatan untuk bersama dengan dirimu sampai akhir hidupmu.

 

Berkali-kali sebuah pikiran penyesalan mampir ke pikiran kami semua. Seandainya saja hari itu kami tidak usah mendaki gunung Gede. Seandainya saja kami membangun tenda di pos 1 seperti usul Fahmi. Seandainya saja kamu berkata kepada kami kalau kamu sakit, sakit yang bukan sekedar “masuk angin” seperti anggapan kebanyakan saat seseorang muntah-muntah. Mungkin kita akan memutuskan kembali ke Jakarta dengan hati senang. Karena buat kami, apapun akan kami lakukan untuk membuat kamu tetap hadir dalam hidup kami.

 

Tetapi Tuhan berkata lain. KehendakNya berbeda dengan kehendak kami. Sebagaimanapun kami menangis, meraung, membasahi pipi kami dengan air mata yang terus mengalir. Tuhan punya rencana yang lebih hebat dari rencana kami. Tuhan sayang sama kamu. Dia tahu kamu orang yang sangat baik. Kehadiranmu di sisiNya lebih menyenangkan hatiNya dibanding kamu tetap di bumi ini.

 

Jadi aku terpekur. Walau rasanya masih seperti mimpi. Tetapi ini adalah “mimpi” yang harus di terima mau tidak mau. Tidak ada lagi fisik dari seorang Triplek. Namun jiwanya, apa yang pernah ditaburkannya, apa yang pernah dibagikannya kepada kami, semua kenangan demi kenangan, itu tidak akan pernah meninggalkan kami.

 

Lalu aku teringat perkataanmu pagi itu…

“Namanya juga maut ya, kapan dia datangnya, kita mana tahu. Kalau sudah waktunya datang, pasti datang.”

 

“Perjalanan membuat kita bertemu banyak orang. Beberapa di antaranya dapat menjadi sahabat. Sahabat baik yang hanya dapat dipisahkan oleh maut.”

ketika-gunung-gede-memanggilmu-6ketika-gunung-gede-memanggilmu-4

 

Selamat jalan Triplek. Selamat jalan Andi Prasetyo. Gunung kini meneriakkan namamu.

“Death ends life but not relationship,” – Mitch Albom.

 

Temanmu,
Dea Sihotang

Disclaimer

 

 

Advertisements

11 comments

  1. Kak, aku sedih banget bacanya 😥 Tapi entah mengapa ada rasa senang dimana mengetahui Bang Triplek menghembuskan nafas terakhir di tempat kesukaannya. Turut berduka cita juga dari Mapala UI karena dia juga dikenal baik banget di Mapala. May he rest in peace. Yang sabar ya Kak :’)

    Liked by 1 person

    • Makasih banyak Satsat!! Ohh, gw ga tau dia dikenal baik juga di Mapala 🙂 Emang orangnya baik banget, humble dan apa adanya. Sedih banget masih, tapi harus harus harus ikhlas.. Bener, setidaknya dia mengakhiri hidupnya di tempat yang paling dia suka…

      Like

  2. Turut berduka yang sedalam-dalamnya, ya Dea. Aku memang nggak kenal dengan Andi, tapi membaca ini jadi ikut nangis. Melihat banyak orang yang berduka, pasti almarhum adalah orang baik dan kini sudah mendapat tempat di sisi-Nya :’)

    Like

  3. Gue dengar kabar Kak Andi ini dari Ageng. Gue pernah ngecamp bareng waktu di Cidahu dulu. Tapi gue baru tau kalo dia meninggal pas lagi naik gunung sama elo. Sedih bacanya. Orang baik semoga dapat tempat terbaik di Atas sana. Aamiin.

    Like

  4. Hi Dea..
    Salam kenal yaa..
    Sediiih bgt baca tulisanmu ini. Aku baru tau hari ini kl Andi udh gak ada. Gak denger kabarnya sm sekali kl dia udh pergi buat selamanya.
    Sering bgt hunting foto brg Andi, belajar fotografi sm dia, belajar revit sm dia jg, dll..

    Gak denger kabar kepergiannya ternyata beneran ckp bikin terpukul. Teman yg baik, yg slalu ada kapanpun saat dibutuhkan, yg slalu bisa bikin tertawa dengan semua guyonannya..

    Aah..sediiih bgt..
    Semoga alm. ditempatkan di tempat terbaikNya & semua amal ibadahnya diterima Allah SWT..Aamiin
    Alm. Andi org yg baik dan kita pasti tau bagaimana perlakuan Allah SWT kepada orang2 yg baik..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s