Bertabur Ribuan Bintang di Pulau Nuse, Rote Ndao

Pulau Nuse?

Namanya saja aku belum pernah mendengarnya. Namun ketika seorang teman mengajak kami untuk mengunjungi pulau tersebut, tanpa perduli apa namanya, aku pun langsung mengiyakan saja. Gelora untuk menjelajahi pulau Rote ini memang selalu menggebu-gebu dalam hatiku, dan berdiam diri saja di hotel Anugerah, tempat aku menginap, rasanya bukan hal yang tepat untuk dilakukan di pulau berlimpah matahari ini.

Berangkatlah kami hari itu. Matahari sudah tidak lagi rendah. Hampir pukul sebelas ketika kami akhirnya memutuskan untuk berangkat. Berbekal makanan ringan seadanya, air minum botolan dan alat snorkeling, kami pun dipenuhi rasa antusiasme tinggi. Menurut teman kami, akan ada temannya yang akan menjemput kami dengan sebuah perahu kecil.

Bahkan kami pun disuruh untuk bersiap-siap untuk mendayung, jikalau nanti air ternyata surut .

“Bisa dayung kan?” tanya temanku.

“Bisaaaaa…” sahutku menyakinkan.

Bicara soal mendayung, yang kupikir lebih penting diperlukan adalah tenaga untuk mendayungnya. Nah aku sih tidak sekuat itu, namun memberikan bantuan moral untuk para pendayung, bisa lah…

 

Dari Nemberala, diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai Pantai Tongga. Dari sanalah kami akan bertolak ke Pulau Nuse.

Jarak sampai ke pantai Tongga dari Nemberala memang tidak terlalu jauh, namun seperti normalnya jalanan di desa-desa Rote, biasanya jalanan cukup rusak, sangat rusak dan sering terbuat dari lindasan batu kapur sehingga sangat berdebu dan banyak batu karang yang harus kita hindari saat berkendara. Awalnya sulit untuk bernafas dengan baik saat posisi motor berada di belakang motor lainnya yang melaju dengan cepat dan membuat debu bertebaran dimana-mana. Namun seiring berjalannya dengan waktu aku tinggal di pulau ini, hal tersebut pun menjadi terasa biasa. Bawalah masker jika tidak ingin menghirup debu.

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (4)
Pantai Tongga di Pulau Rote Ndao.

Sesampainya di pantai Tongga, kami menunggu sebentar sambil bercerita-cerita. Pantai Tongga sendiri adalah sebuah pantai yang sepi dan hanya terlihat beberapa rumah para pengrajin rumput laut. Sinyal telepon pun sangat jelek disini, sehingga perlu beberapa saat hingga akhirnya kami bisa terhubung dengan Ivan, seorang teman dari pulau Nuse yang akan mengantarkan kami kesana.

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (5)
Rumah para petani rumput laut di pantai Tongga.

 

Setibanya Ivan di dermaga, kami langsung menyambut dia dengan penuh antusias. Basah-basahan di laut sudahlah merupakan hal yang lumrah jika ingin berjalan-jalan di Rote. Kali ini, kami pun harus berbasah-basahan untuk bisa naik ke perahu, karena air di sekitar dermaga surut dan perahu tidak bisa mendekat.

 

Perahu yang kecil tersebut terasa cukup penuh dengan kehadiran kami bertiga di tambah Ivan dan seorang bapak yang mengemudikan perahu. Namun kami sudah terpana dengan jernihnya air laut yang memperlihatkan bayang-bayang terumbu karang di bawah laut, sehingga kami tidak memperdulikan hal-hal lainnya. Aku pun melupakan sepatu diving yang sengaja aku pinjam untuk snorkeling nanti. Tidak tersedia kaki katak dengan ukuran kaki ku, sepatu diving lah yang akhirnya aku bawa demi keamanan agar kaki tidak menginjak bulu babi. Sepatu diving tersebut ternyata masih berada di jok motor! Arrghhh, alamat aku akan snorkeling tanpa menggunakan sepatu! Hiks!

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (17)
Penampakan bawah laut pulau Nuse. Photo oleh Anugerah Surf Dive Resort.

Setibanya kami di permukaan air yang sangat terlihat biru transparan, kami pun berhenti untuk snorkeling. Sayang arus sangat kuat saat itu, sehingga aku pun kewalahan untuk bisa menahan badanku agar tidak terseret arus. Namun aku masih dapat menikmati pemandangan alam bawah lautnya yang begituuu indah. Terumbu-terumbu karang masih terlihat berwarna-warni, walau ikan tidak terlalu banyak karena arusnya yang kencang, namun masih terlihat ikan-ikan berkeliaran di sana-sini tanpa memperdulikan kehadiran kami. Ketika aku mencoba untuk memberikan roti, mereka pun tidak mendekat seperti ikan-ikan yang berada di beberapa tempat wisata yang telah kukunjungi. Ikan-ikan disini memang masih belum kenal manusia dan masih sangat “natural”! Belum tersentuh komersialisme, hahaha…

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (12)
Pulau Nuse di Rote Ndao.
Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (11)
Pulau Nuse di Rote Ndao.

 

Setelah cukup bersnorkeling, kami kembali ke perahu dan menuju ke pulau Nuse. Dari pantai Tongga ke pulau Nuse tidaklah terlalu jauh dengan menggunakan perahu. Hanya sekitar 15-20 menit, tanpa berhenti untuk snorkeling tentunya. Setibanya di pulau, kami pun diajak Ivan untuk makan siang dirumahnya. Wahhh, tidak menyangka bahwa kami akan disajikan makan siang! Karena kedatangan kami pun sebetulnya dadakan sekali.

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (2)
Ivan, salah seorang pemuda pulau Nuse sedang menceritakan tentang pulau Nuse kepada kami. Photo oleh Wage Adit.
Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (1)
Bincang-bincang santai di sore itu bersama orang tua Ivan. Photo oleh Wage Adit.

Kami disambut oleh orang tua Ivan yang kemudian meminta salah seorang anak pulau untuk memanjatkan pohon kelapa dan mengambil beberapa buah untuk kami. Aku tertakjub-takjub melihat ketangkasan anak pulau ini menaiki pohon kelapa, seakan hal tersebut bukanlah perkara besar. Padahal pohon kelapa itu berdiri menjulang tinggi dan terlihat sangat sulit untuk di panjat!

 

Kami lalu menikmati air kelapa sembari mengobrol dengan Ivan dan ayahnya. Lalu datanglah beberapa orang penduduk lainnya yang juga ingin ikut mengobrol bersama dengan kami. Penduduk pulau ini terlihat sangat ramah dan memiliki rasa terbuka yang tinggi. Mereka tidak menganggap kami sebagai “musuh” atau “orang luar” walau baru saja bertemu. Mereka bersedia duduk bersama dan bertukar pikiran tentang keadaan masyarakat di pulau. Saat kami berjalan kaki di sekitar pulau pun, banyak orang-orang yang melemparkan senyum, mengangukkan kepala atau melambaikan tangan, tanda menyapa kami. Keramahan yang begitu tulus.

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (8)
Keramahan orang tua Ivan membuat perasaan ku sangat happy. Apalagi dengan adanya suguhan buah kelapa ini.
Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (7)
Ayah Ivan sedang membuka kelapa untuk kami.

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (6)

Panen Rumput Laut

Mata pencaharian utama penduduk pulau Nuse maupun sebagian besar pulau Rote adalah memanen rumput laut. Jenis rumput laut di pulau Rote memang terlihat spesial. Begitu besar, berisi dan segar. Rumput laut biasanya dikumpulkan dari laut pada saat siang hingga sore hari. Lalu dipisahkan dari “lumut” laut, kemudian di jemur sampai kering. Setelah kering dengan sempurna, baru dimasukan ke karung dan dijual per-kilo. Untuk penduduk pulau Nuse, mereka melakukan penjualan selama sebulan sekali, sehingga telah terkumpul beberapa ton, baru dikirimkan ke Ba’a. Kota terbesar di pulau Rote. Penjualan per-kilo yang didapatkan oleh masyarakat adalah sekitar 6,000 s/d 10,000,- rupiah.

 

Mendengar hal tersebut, aku pun memberikan ide kepada Ivan dan keluarganya, agar dapat mengolah rumput laut tersebut terlebih dahulu untuk bisa menjadi sebuah produk, sehingga bisa langsung di konsumsi oleh pembeli. Baik pembeli di pulau Rote, maupun di seluruh Indonesia, hingga mancanegara. Akan sangat menguntungkan bagi penduduk lokal jika mereka diberikan pelatihan untuk dapat meningkatkan daya jual rumput laut tersebut sehingga bukan hanya rumput laut sebagai bahan mentah yang dijual oleh mereka ke tengkulak dengan harga murah. Di lain pihak, ini juga bisa menjadi “oleh-oleh” khas Rote.

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (9)
Rumput laut sebagai salah satu penghasilan masyarakat pulau Nuse.

 

Merantau ke Seberang Pulau Demi Menimba Ilmu

Aku melihat banyaknya potensi yang dimiliki oleh desa-desa yang kukunjungi, namun tidak dapat tergali dengan maksimal, oleh karena kurangnya pengetahuan dan tidak adanya latihan keterampilan sehingga masyarakat dapat terangkat secara finansial dan bisa menjadi desa mandiri. Bayangkan saja bagaimana perasaanku ketika mendengar bahwa anak-anak di pulau Nuse setelah lulus Sekolah Dasar (SD) sudah harus merantau ke seberang pulau, jauh dari orang tua dan sanak keluarganya, demi bisa menimba ilmu di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dimana aku saat berumur 12 tahun? Masih takut sekali dengan dunia luar saat itu, rasanya. Anak kota yang berumur 12 tahun saja mungkin hanya mengenal nonton tv, bermain gadget, menunggu orang tua menyiapkan makanan dan nge-mall.  Sedangkan anak-anak pulau Nusa sudah harus bisa bertahan hidup secara mandiri, mengurus diri mereka sehari-hari dengan tinggal di rumah kos, demi bisa mengecap bangku sekolah lanjutan. Sungguh anak-anak yang kuat. Kekuatan mental yang mereka miliki membuatku kagum. Namun di lain pihak, hal tersebut terdengar sangat mengiris hati.

 

Taburan Ribuan Bintang

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (16)
Bobby, Adit dan aku saat sedang bernyanyi-nyanyi di pantai sambil menunggu sunset.
Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (3)
Sunset yang begitu indah dapat kita lihat dari pulau Nuse…

Kami melanjutkan waktu kami di pulau Nuse dengan duduk-duduk santai di pantai. Garis pantai yang panjang dan baluran pasir putih menggoda kami untuk duduk manis, sambil bernyanyi-nyanyi sembari menunggu matahari terbenam. Untuk para pencinta sunset, pergilah ke pulau Rote, karena kamu pasti akan selalu mendapatkan sunset yang luar biasa indah! Aku sebagai pencinta sunset, selalu menikmati momen-momen ketika matahari secara perlahan turun dan kembali ke peraduannya. Lalu aku pun selalu menunggu-nunggu saat ketika after sunset, saat dimana langit menjadi merah membara dan terlihat begitu dashyat! Banyak yang hanya “menunggu” sunset dan melupakan nikmatnya memandangi langit kemudian, karena berpikir bahwa masa spektakular telah selesai. Sunset dan after sunset memiliki kekuatan magisnya masing-masing bagiku. Dua hal yang tidak boleh dilewatkan.

Namun kami harus kembali ke perahu untuk bertolak kembali ke pantai Tongga. Langit pun telah berubah menjadi gelap. Sebuah hal yang memunculkan keindahan lainnya dari pulau Nuse. Tiba-tiba di langit terlihat taburan ribuan bintang! Sehingga kami lagi-lagi dibuat terpana dan terkagum-kagum oleh keindahan alam yang kami rasakan di pulau ini!

Taburan seribu bintang yang biasanya hanya dapat aku lihat setelah mendaki ketinggian ribuan kilometer menuju puncak gunung, kini bisa terlihat secara bebas tanpa perlu mendaki apa-apa! Tepat di tepi pantai dimana kami duduk sembari menunggu perahu kami siap. Aku merasa sangat kecil dan kagum akan kebesaran Sang Pencipta dunia ini.

Kami harus menunggu lebih lama karena air laut terlihat sangat surut malam itu. Tidak mungkin perahu bisa berangkat kembali ke pantai Tongga. Tetapi kami tidak merasa keberatan sama sekali untuk menunggu. Apalagi ketika tiba-tiba aku melihat bintang jatuh. Aku langsung bersorak kegirangan dan tidak lupa mengucapkan “wish” yang semoga saja tahun depan bisa terkabul, hehehe.

Ketika waktu sudah semakin malam dan kami melihat air sudah semakin pasang, kami pun berperahu ke pantai Tongga. Pengalaman seru lainnya, karena kami harus menggunakan senter dalam gelap, demi melihat dan berjaga-jaga agar tidak ada ombak yang kami hantam. Maklum perahu kecil jika dihantam ombak, bisa-bisa kami semua jatuh ke laut. Walau bisa berenang, siapa yang mau jatuh di tengah laut pada malam gelap begitu? Di kejauhan terlihat semburat bulan muncul secara perlahan berwarna oranye keemasan. Wah, beruntungnya kami, melihat sunset yang mempesona ditambah dengan munculnya bulan, setelah taburan ribuan bintang di pekatnya malam. Drama indah pemberian dari sang langit yang begitu menawan.

Ribuan-Bintang-di-Nuse-Rote (18)
Terlihat gelap di pulau Nuse, namun sebetulnya ribuan bintang berpendar ceria di sekeliling kita malam itu…

Seandainya kami bisa camping malam itu di pantai… Alangkah menyenangkannya!!!

Mungkin suatu saat bisa. Siapa yang tahu?

Sudah kunjungi Indonesia kamu?

 

Cheers,

Dea

Disclaimer

Advertisements

10 comments

    • Hihihiii, iyaaaa… Susah banget photo bintang-bintangnyaaa… Tapi percayalah, gw merasa keciiill sekali saat itu karena ribuan bintang ada di atas gw 😀 Makasih udah baca yaaa 🙂 Salam exploring!

      Like

  1. Makasih ceritanya kak, kebetulan lagi nyusun rencana kesana nih..
    Aku sih pengennya di sana belajar surfing sekaligus snorkeling. Underwaternya kece kan ya kak? banyak gak spot2 yang menarik di Rote?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s