Melihat Pulau Rote Dari Sisi Yang Lain (#Deascovery Part 1)

Jika pernah mendengar tentang pulau Rote, maka yang biasanya akan muncul di dalam pikiran adalah sebuah pulau dengan pantai-pantai indah di sisi baratnya. Itu betul. Namun selain dari sebuah pulau yang indah, Rote juga memiliki pesonanya sendiri dari setiap sisi sudutnya.

 

Ini sudah merupakan hari kedua puluh empat aku berada di tanah ini. Siapa yang sangka aku bisa bertahan selama itu disini. Sebelumnya tidak pernah sekalipun nama Rote masuk dalam daftar tempat yang akan kukunjungi dalam tahun 2015 ini. Namun hidup berbicara lain. Aku melangkahkan kaki di Rote tanggal 25 November, sampai hari ini pun, aku masih bertatap muka dengan para penduduknya.

 

Setelah lebih dari 2 minggu kehadiranku di terima dengan begitu baik di sebuah tempat persinggahan di Nemberala, 3 hari lalu aku akhirnya membawa tas backpack besarku menuju Desa Oenitas. Sebuah rumah sederhana berpagar seng menjadi tempat tujuanku. Kali ini keramahan keluarga Esau Nalle menyambutku dengan tangan terbuka. Karina, salah seorang pengajar muda dari program Indonesia Mengajar di Rote yang membuatku mengenal keluarga pak Esau. Beliau sendiri adalah salah seorang pejuang seni budaya Rote, Sasandu Gong, sebuah alat musik tradisional yang terbuat dari daun lontar, yang nampaknya sudah mulai dilupakan oleh bangsa Indonesia, atau bahkan masyarakat Rote itu sendiri.

Melihat-Rote-Dari-Sisi-Yang-Lain-Deasihotang (2)
Salah satu adegan pengambilan video di pantai Boa. Photo oleh Wage Adit.

 

Sebetulnya ada rasa berat ketika meninggalkan Nemberala. Sebuah kamar bernomor 122 telah menjadi rumahku selama dua minggu belakangan kemarin. Setiap ritme kegiatan di tempat itu pun telah menjadi bagian dari ritme hidupku. Diskusi-diskusi yang terjalin dengan beberapa orang dan tamu di tempat itu mengenai Rote dan dunia memenuhi hari-hariku. Kesibukan mengambil gambar dan video bersama seorang teman menjadi awal dari perjalananku di Rote. Menulis dengan pemandangan daun-daun pohon kelapa yang diterpa angin telah terbiasa kulihat setiap harinya. Kehadiran lima ekor anjing yang selalu duduk manis di bawah meja mengharapkan serpihan-serpihan makanan dari piringku juga telah menjadi bagian dari hidupku.

Melihat-Rote-Dari-Sisi-Yang-Lain-Deasihotang (6)
Salah satu tempat favorite-ku di Nemberala untuk “me time”.

Awalnya mereka mengeram dan menyalak kencang ketika aku pertama kali tiba di tempat tersebut. Lalu persahabatan mulai terjalin ketika potongan makanan demi makanan kuulurkan dari telapak tanganku. Hasilnya adalah hampir setiap sore kami menikmati pantai Nemberala bersama-sama. Aku bermain-main dengan pura-pura mengejar mereka, yang lalu dengan penuh antusias akan disambut mereka dengan terjangan kaki empat. Kadang aku kewalahan. Terutama ketika harus duduk berdekatan dengan mereka dan mencium bau apek, bau khas anjing yang muncul jika mereka sudah lama tidak pernah mandi. Ada rasa sayang secara otomatis terhadap anjing-anjing ini, namun juga ada rasa kesal karena “bau” tersebut bisa membuatku tidak konsen menikmati indahnya drama sang matahari terbenam.

Melihat-Rote-Dari-Sisi-Yang-Lain-Deasihotang (7)
Teman untuk melihat sunset, hehehe, gonna miss them a lot!

 

Inti dari sebuah perjalanan adalah terus berjalan.

Maka aku pun terus berjalan.

Namun kakiku terhenti sementara di ruang keluarga pak Esau. Kami asyik mendengarkan cerita-cerita dari beliau. Kala itu ada bang Anton dan Ruben, salah seorang sanak keluarga pak Esau yang sedang berkunjung. Ternyata memang banyak sekali orang-orang yang bertandang ke rumah bapak. Aku dengar dari Karina, bapak memang banyak berkiprah menolong masyarakat Rote, tak sedikit yang kemudian diangkatnya menjadi anak lalu sanak keluarga.

Melihat-Rote-Dari-Sisi-Yang-Lain-Deasihotang (3)
Bersama para travelers yang sedang keliling Indonesia dan Acad, salah satu pengajar muda, di rumah pak Esau. Photo oleh Wage Adit.

Pak Esau belum memiliki anak. Namun istrinya, mama Nalle, telah cukup disibukkan dengan kehadiran seorang anak kecil berumur 1,5 tahun, seorang anak yang tinggal di rumah sebelah dan telah mereka anggap sebagai anak sendiri. Asa namanya. Kehadirannya memberikan kebahagiaan di rumah ini. Langkah kakinya yang masih tertatih-tatih dan beberapa kalimat tidak jelas yang terucap dari mulutnya kadang menjadi candaan dan tontonan kami semua.

Melihat-Rote-Dari-Sisi-Yang-Lain-Deasihotang (8)
Asa dan mama Nalle.

Pembawaan mama Nalle yang santai dan selalu terlihat ceria, juga membuatku langsung merasa akrab dengan keluarga ini. Walau sejujurnya, untuk mendengarkan mereka berbicara terkadang merupakan suatu hal yang sulit bagiku. Karena aksen dan cara mereka menyusun kalimat, merupakan suatu hal yang baru di telingaku. Tidak jarang berkali-kali aku terdiam, seperti terjebak dalam satu lubang gelap, dan tidak tahu rentetan cerita yang terus berlangsung selama aku berada di lubang tersebut.

Melihat-Rote-Dari-Sisi-Yang-Lain-Deasihotang (5)
Aku, Karina dan bapak Esau Nalle.

 

Kadang aku pun mencoba bersikap cerdik dengan melemparkan senyuman dan anggukan kepala, tanda bahwa aku tetap mengikuti pembicaraan. Bukan kah senyuman adalan bahasa yang universal? Mereka setidaknya mengerti, bahwa aku terus mengikuti diskusi yang terjadi. Aku terkagum dengan Karina yang dapat secara fasih berbicara dengan logat Rote. Entah berapa lama lagi aku baru bisa menirukannya. Sampai sekarang saja aku masih selalu terbengong-bengong kalau diajak ngobrol. Bukannya aku bermaksud untuk bersikap kasar.

 

Malam itu kami dihujani dengan sekumpulan kumbang-kumbang hitam yang terbang berputar mengelilingi sinar lampu LED. Bukan, ini bukan Laron. Tetapi kumbang-kumbang hitam, besar dan kecil yang terlihat sangat mengerikan untukku. Aku adalah seorang yang tidak menyukai serangga. Menurut ku mereka mengerikan dan menjijikan. Namun, sejalan dengan keberadaanku di Rote, aku mulai terbiasa dengan serangga-serangga tersebut. Tidak mengherankan lagi bagiku melihat kehadiran mereka dimana-mana. Malam itu, ketika aku membaringkan diri, aku merasa sesuatu berjalan di kepalaku. Betul saja, ketika ku angkat tanganku untuk meraba kepala, ternyata si kumbang tadi sedang berjalan pelan di antara helai rambut-rambutku. Aku tidak berteriak, tidak juga merasa jijik, kali ini aku hanya cepat-cepat mengambil kumbang tersebut tanpa melihatnya lalu melemparkannya jauh-jauh.

Melihat-Rote-Dari-Sisi-Yang-Lain-Deasihotang (1)
“All that is gold does not glitter, Not all those who wander are lost.” – J. R. R. Tolkien

Traveling membuat kita memang belajar untuk menjadi lebih kuat.

Traveling juga membuatku mengenal orang-orang baru.

Setelah pak Esau dan mama Nalle, aku pun ditambahkan pertemuan dengan orang-orang baru lainnya yang ternyata mengagumkan bagiku. Delapan orang anak-anak muda yang bersaing dengan ratusan anak muda lainnya, demi terpilih menjadi Pengajar Muda di program Indonesia Mengajar di Rote.

 

Pilihan yang tepat untuk memilih mereka. Sebuah kesimpulan yang bisa kuambil setelah aku berkesempatan untuk bisa bertemu secara langsung dengan mereka semua. Aku pun kagum dengan ketekunan dan dedikasi mereka untuk masyarakat Rote. Seandainya semakin banyak anak-anak muda yang seperti mereka, daripada menghabiskan waktunya berkoar-koar di lini masa Facebook, menjadi politikus dadakan yang hanya membuat mereka terlihat banyak omong, lalu sibuk mengkritik siapapun yang bisa mereka kritik tanpa memberikan sumbangsih positif untuk hidup orang lain atau Indonesia, lebih baik mereka berpikir bagaimana supaya bisa hidup untuk berbagi dengan orang lain.

 

Di tanah Rote yang panas, aku pun belajar sisi-sisi lain yang membuatku terpesona akan pulau ini. Di tengah teriknya matahari, seorang tentara menanyakan jalan ke suatu tempat kepada seorang bapak yang sedang berada di depan rumah, bukan hanya sekedar memberitahukan arah, bapak tersebut lalu berkata, “Mari pak, ikuti beta saja,” sambil mengendarai motornya untuk memandu tentara tersebut.

 

Di tengah terik sengat mentari yang luar biasa, seorang ibu dengan gagah berani memikul dua buah ember berisi air di pundaknya. Pemandangan yang memilukan namun juga menunjukkan betapa kuatnya perempuan-perempuan Rote.

 

Di tengah keringat yang mengalir deras di T-Shirt kumelku saat ban kami pecah dan kami terpaksa harus mencari tambal ban, aku melihat seorang murid Sekolah Dasar (SD) sedang berjalan kaki. Yang menarik perhatianku adalah sepatu yang dilepaskannya lalu ditenteng sepanjang jalan. Ketika aku bertanya ke Karina, kenapa dia berlaku seperti itu? Katanya, “Mereka menganggap sepatu itu sangat berharga kak, sampai-sampai setelah bubar sekolah, mereka langsung membuka sepatu, karena takut sepatu rusak jika terus menerus di pakai.”

 

Traveling selalu membuatku melihat satu tempat dari sisi yang lain. Sisi yang tidak akan pernah kulihat jika aku hanya berdiam diri saja di satu tempat. Sisi yang mengajarkanku banyak hal. Pelajaran yang terpenting yang bisa ku ambil adalah untuk terus mengucap syukur dan berbagi.

“Wherever you go, go with all your heart.” – Confucius

Melihat-Rote-Dari-Sisi-Yang-Lain-Deasihotang (4)
Pantai Boa, photo oleh Wage Adit.

Salam dari Desa Oenitas,

Dea Sihotang

Disclaimer

Advertisements

3 comments

  1. Hai Dea, sudah dua minggu lebih ya di Rote sana?
    Mau tanya dong, kenapa Rote merasa perlu relawan-relawan dari Indonesia Mengajar? Apakah kondisi tenaga pendidikan di Rote belum memadai sehingga mereka merasa perlu bantuan untuk mengajari anak-anak sekolah di sana?

    Like

    • Hai Vicky, maaf ya baru balas, baru ada sinyal nih 🙂 Iya betul Vicky, di beberapa desa di Rote, tenaga nya secara jumlah kurang, juga secara sdm juga kurang 🙂 Makanya ada program Indonesia Mengajar juga di sana…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s