My Nomaden Life at the Moment

Kita ga akan pernah tau apa yang akan terjadi dalam tahapan hidup kita selanjutnya.

Itu yang aku percaya dan juga terjadi dalam hidupku akhir-akhir ini. Siapa sangka, setahun yang lalu kalau aku akan menjalani sebuah trip panjang selama 34 hari keliling Flores. Tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Malahan dibayar. Terdengar enak ya? Tetapi bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

My Nomaden Life at the Moment-Deasihotang (5)
Pagi ini bangun dengan pemandangan beribu bulir padi yang menguning…

Well, seperti beberapa orang yang telah tahu cerita hidupku (yep, susah memang menjadi seorang extrovert), aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku yang lama sekitar 10 bulan lalu. Tepatnya Agustus 2015. Bukannya aku tidak menyukai pekerjaanku saat itu. Malahan aku bisa bilang, kantor terakhirku di Jakarta merupakan salah satu pekerjaan yang atmosfir kerjanya sangat menyenangkan selama perjalanan karirku. Bos ku seorang yang baik dan sangat fair yang selalu mendukungku untuk maju. Teman-teman kerjaku begitu suportif dan selalu mendukung kegiatan-kegiatan gila yang aku lakukan, walaupun sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka. Pekerjaanku juga menyenangkan. Aku mengenal banyak orang, orang-orang yang penting (walau mereka tidak mengenalku) juga belajar tentang sebuah dunia baru yang begitu penuh dengan lika liku sistem dan cerita dari sebuah dunia minyak dan gas, dunia gas batu bara.

 

Tetapi riuhnya Jakarta betul-betul membuatku tidak tahan untuk hidup di kota besar. Tantangan menghadapi kemacetan, emosi para manusia yang mudah tercetus, panas mentari yang menyengat namun tidak menyenangkan seperti sun-kissed yang biasa kita dapat di alam bebas sana, lalu bangunan-bangunan beton yang berwarna abu-abu dan pekatnya asap knalpot Kopaja dan Metromini membuatku memutuskan untuk meninggalkan kota berisi dua belas-juta manusia itu. Aku belum tau akan kemana saat itu, yang ada di otakku hanya aku ingin meninggalkan Jakarta.

 

Seorang teman di Bali menyarankanku untuk pindah ke Bali saja dan mencari pekerjaan disana. Ehmmm, aku tidak begitu menyukai Bali dengan segala turisme yang sangat meningkat tajam, membuat beberapa area di Bali terlihat begitu berantakan. Namun aku memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di Bali, menyoba menilai perasaanku sendiri saat itu, apakah aku akan betah berada di pulau dewata yang banyak diagung-agungkan orang ini.

 

Hidup berkata lain. Aku diundang ke pulau Timor Barat. Ke kota Kupang, tepatnya. Sebuah perjalanan bersama Travel Bloggers Indonesia selama seminggu di Nusa Tenggara Timur. Salah satu bagian dari Indonesia yang ingin sekali dari dulu bisa kujelajahi, namun tidak pernah kesampaian. Jadilah kupikir untuk menggunakan momen ini sebagai perjalanan awalku backpacking di NTT. Saat ditanya berapa lama aku akan pergi, dengan polosnya aku bilang, sebulan. Waktu itu kupikir sebulan akan cukup untuk menjelajahi pulau-pulau di NTT.

Beautiful sunrise almost everyday I had while staying in Ubud.
Beautiful sunrise almost everyday I had while staying in Ubud.

Singkat cerita, perjalanan backpackingku seorang diri yang kunamakan #Deascovery berbuntut panjang menjadi lima bulan. Iya, lima bulan seorang diri, lontang lantung di pulau orang lain. Namun ternyata lima bulan itu menjadi sebuah investasi diri dan juga pengalaman yang sangat berharga untukku. Banyak sekali perasaan up and down selama backpacking. Aku yang berpikir diriku merupakan seorang traveler sejati, ternyata juga tidak luput dari rasa jenuh berpergian.

 

Aku capek pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kuputuskanlah untuk kembali ke Bali saat bulan ke lima melalang buanaku sudah hampir habis. Kebetulan juga aku perlu menyiapkan diri untuk bisa hadir di sebuah festival yoga internasional yang akan diadakan di Ubud, Bali. Sebuah kesempatan besar aku bisa diterima untuk volunteering di acara tersebut, karena festival ini begitu mahal dan luar biasa fun. Bali Spirit Festival 2016 adalah sebuah acara festival yoga yang pertama kali kudatangi. Tiba-tiba hidupku dipenuhi oleh begitu banyak orang yang menyukai yoga dan kawan-kawannya. Banyak orang menyebut mereka hippies. Tetapi buatku, mereka sama saja, sama-sama manusia juga sepertiku.

 

Kedatanganku ke Ubud ternyata menjadi langkah awal untuk menyiptakan sebuah kehidupan yang cukup stabil bagiku. Aku memutuskan untuk tinggal di Ubud. Mendalami yoga dan juga mengikuti atmosfir hidup sehat yang mudah sekali didapatkan di Ubud. Ubud, sebuah nama kota yang diambil dari kata Obat, ternyata memang merupakan sebuah area yang membuat kita ingin hidup lebih sehat dan damai. Di beberapa sudut jalan raya Ubud dan sekitarnya memang penuh dengan turis, cafΓ©, restaurant dan penginapan. Namun menjauh sedikit dari sana, kita bisa merasakan kehidupan tenang pedesaan yang masih kental dengan adat budaya masyarakat Bali dalam agama Hindu yang mereka anut. Disini aku belajar untuk menghormati dan menghargai agama orang lain. Sering sekali aku terlelap dengan nyanyian gamelan dari Pura yang terdengar seperti lagu nina bobo. Lalu kebiasaan menanti dengan sabar jika jalan ditutup untuk sebuah acara keagamaan dan adat tanpa merasa kesal sekalipun. Aku merasa jiwaku menyatu dengan kota ini.

My Nomaden Life at the Moment-Deasihotang (4)
Ketika sarapan pagi saja begitu penuh dengan kedamaian…

Tetapi saat itu, aku masih belum mempunyai pekerjaan. Oh, hidup memang menyenangkan tanpa harus melakukan kebiasaan untuk bangun pagi, melawan kemacetan, mencoba untuk bisa terus membuka mata yang pasti selalu mulai mengantuk di saat-saat genting setelah makan siang lalu kembali menghadapi kerasnya hidup di jalan untuk bisa pulang ke rumah. Menyenangkan bisa bangun siang, tidak melakukan apa-apa selain menanti matahari terbenam, untuk kemudian tidur lagi. Namun kantongku mulai kempes. Aku perlu mengisinya kembali. Jadilah aku mulai memutar otak apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan uang dan merasa produktif kembali. Ternyata secara natural, aku memang selalu ingin melakukan sesuatu. Sesuatu yang berguna tentunya. Namun aku tidak ingin kembali ke Jakarta. Kembali ke Jakarta sama sekali tidak ada di dalam otak dan rencanaku, walau aku kangen dengan keluarga, anjing-anjingku juga sahabat-sahabatku, namun dengan kembali ke Jakarta sama saja aku membunuh jiwa yang baru saja dibebaskan dari kungkungan.

 

Seakan Tuhan mendengar doaku (aku yakin Dia mendengar doaku), lalu aku bertemu dengan pemilik Wicked Adventures, sebuah adventure travel company yang bukan hanya sekedar membuat trip untuk para turis yang bisa datang ke tempat-tempat wisata, photo-photo lalu pulang. Wicked Adventures merupakan sebuah perusahaan travel yang melaksanakan perjalanan panjang dengan tujuan memperkenalkan budaya Indonesia secara mendalam kepada tamu-tamu mereka. Aku tertarik ketika melihat profil perusahaan ini. Program-program yang mereka miliki merupakan ethical tour dan juga memberdayakan masyarakat lokal. Aku suka itu! Apalagi ketika pemilik Wicked Adventures mempertimbangkan kapasitasku untuk menjadi their next guide dari blog yang susah payah aku bangun sejak 2013. Aku jadi terharu, ada yang betul-betul mau membaca artikel-artikel segudang yang kutulis untuk menilai kualitasku. Ternyata ga sia-sia loh punya blog. Betul-betul bisa menjadi portofolio kita, karena itu, buatlah blog seakan mewujudkan siapa diri kamu sebetulnya. Tunjukkan kualitas kamu dari blog yang kamu bikin. Baru kali ini aku diterima kerja karena blog, bukan karena selembar curriculum vitae atau surat lamaran kerja.

My Nomaden Life at the Moment-Deasihotang (1)
Perjalananku bersama dengan teman-teman dari Denmark di kota Ende, Flores.

Sampai dengan hari ini, aku sudah menjalani 3 kali program trip dengan mereka. Untuk saat ini, fokus trip memang baru di daerah sekitar Bali, Lombok dan Flores. Semoga saja kedepannya nanti bisa merambah ke bagian Indonesia lainnya. Dan sekarang, aku sedang menggigil kedinginan di kota Ruteng, mencoba menulis sambil meringkuk di dalam selimut. Hari ini adalah hari kesepuluh dari perjalanan 34 hari overland trip bersama 11 orang anak muda dari Denmark. Sejauh ini perjalanan kami menyenangkan, walau tentu saja berpergian dengan banyak orang (dan memiliki tanggung jawab akan mereka) berbeda dengan waktu saya backpacking sendirian selama 5 bulan di NTT. Nanti kapan-kapan aku cerita tentang bagaimana rasanya menjadi guide ya. Namun kembali melintasi jalan-jalan di Flores seakan aku kembali ke pelukan mama. Para mama yang tersenyum lebar dengan mulut merah merona sehabis mengunyah sirih pinang.

 

Sekarang pun aku masih menggeleng-geleng kepala rasanya, dulu aku pikir seumur hidup aku akan menetap di Jakarta dan berperang setiap hari dengan Kopaja dan para manusia di dalamnya demi sebuah bangku. Beberapa bulan lalu, ketika melangkah ke kota Ende, Bajawa, Ruteng, saat backpacking, aku tidak pernah berpikir akan kembali lagi ke kota-kota tersebut sebagai seorang guide! Aku memang mempunyai sebuah perasaan bahwa aku akan kembali ke tanah NTT, namun tidak terpikir dengan jalan seperti ini.

My Nomaden Life at the Moment-Deasihotang (2)
Antara alam bebas dan jiwa ini, tidak boleh dipisahkan lagi.

Ubud merupakan pancaran hatiku saat ini. Kehangatannya membuatku seakan pulang ke rumah. Namun Flores dan keindahannya merupakan passionku yang tidak akan pernah membuatku bosan. Aku mencintai pohon-pohon palem yang mengalirkan air nira manis ke dalam ember-ember hitam yang bergelantungan. Aku mencintai pemandangan berhektar-hektar sawah menguning yang seakan tidak ada habisnya. Aku mencintai pekatnya malam yang memunculkan kerlap kerlip indah beribu-ribu bintang. Ya, aku bersyukur karena berani mengambil keputusan untuk merubah alur hidupku. Aku belajar untuk bisa melakukan segala sesuatunya hari demi hari, karena aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari. Namun hidup yang penuh misteri dan penuh tantangan ini lah yang membuat hidup terasa indah untuk dijalani.

 

Beberapa orang mencibir ketika tahu aku bekerja lagi, karena mereka berpikir dengan sinis, “Tuh kan, traveling terus ga akan mungkin lah. Butuh juga cari kerja. Butuh juga duit buat traveling.” Yang mereka tidak mengerti adalah, aku memutuskan berhenti kerja untuk mengikuti apa yang menjadi passionku. Melakukan apa yang kita benar-benar mau lakukan sehingga hidup dengan bahagia, itulah pointnya. Tidak ada gunanya mengeluh ini itu, jika tidak berani melangkah untuk mengikuti impian atau passion yang ada di dalam diri. Jika passion itu melibatkan traveling, beruntunglah aku karena saat ini aku bisa bepergian kesana kesini lalu menghasilkan uang.Β  Pagi ini, aku menerima sebuah pesan dari seorang sahabatku, “I always so proud of you Dea.” Sebuah kata singkat, tapi membuat ku tahu, aku tidak akan pernah sendirian walau jauh dari orang-orang yang mengenalku dengan baik. Saat ini, biarkan perpaduan antara kedamaian Ubud dan eksostisme Flores merengkuh hatiku.

 

Selamat malam!

Dea Sihotang

Advertisements

21 comments

    • Thank you yaaa kak Bulaaann… Maafkan komen eyke basi banget yaaa.. Buka blog susah banget nih pas lagi di Flores, sinyalnya ora onooo >,< Kapan kamu nyusul ke Bali kak?? πŸ˜›

      Like

  1. I am so proud of you too Dea ! Terharu sekali aku membaca coretan demi coretan kisahmu ini, aku pecinta alam yg jg enggan dg bisingnya kota.

    Liked by 1 person

  2. May God blessing surround you each day
    As you trust Him and walk in His way
    May His presence within, guard and keep you from sin
    Go in peace, go in love, go in joy…

    *gw numpang nyanyi ya πŸ˜‰

    Liked by 1 person

      • Beta balik lagi ke Jepang nih.. hehehe
        Magang lagi, abis itu balik ke Jakarta.
        Hohoo..
        Semangat dan selamat utk kerja barunya yaa… asik bgt tuh. πŸ˜‰

        Like

  3. May God blessing surround you each day
    As you trust Him and walk in His way
    May His presence within, guard and keep you from sin
    Go in peace, go in joy, go in love

    *gw numpang nyanyi yee.. πŸ˜‰

    Liked by 1 person

  4. Bahasa lo makin rapi. Suka deh. “Aku mencintai pohon-pohon palem yang mengalirkan air nira manis ke dalam ember-ember hitam yang bergelantungan. Aku mencintai pemandangan berhektar-hektar sawah menguning yang seakan tidak ada habisnya. Aku mencintai pekatnya malam yang memunculkan kerlap kerlip indah beribu-ribu bintang”

    Keren Dea, di mana pun lo berada.

    Liked by 1 person

    • Hanuuummm… apa kabarnya dirimu? Kangen ga sama gw? Itu grup whats app udah bener2 raib yaaa.. Jadi Ancala juga raib? *masih di bahas hahahaa – Makasih ya komplimennya… Sini sini aye kecup pipinya πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s