Mau Traveling di Eropa? Baca Ini Dulu Ya, Biar Enggak Kaget

Hey peeps,

 

Udah lama banget ya aku enggak nulis blog. Kebetulan hari ini cuaca dingin (lagi), padahal sedang musim semi di Eropa, tetapi ternyata musim semi itu tidak berarti cuaca serta merta panas. Kemarin 16 derajat Celcius di luar sana, dan kami berjalan-jalan sore di taman, kota sebelah, sambil terus-terusan mengusap-ngusap lengan dan tangan, berharap suhu badan menjadi hangat.

 

Buat yang belum tau, hampir sudah sebulan aku berada di benua Eropa ini. Buat yang sudah tau, pasti kita udah temenan di Facebook atau Instagram – nah yang belum follow, boleh lah follow akoeeehh- teteup, hahaha.

Awal kunjungan ini rencananya family trip selama sebulan, karena kebetulan salah satu ponakan aku yang besar baru saja kelar sidang kuliahnya, dan salah satu kakakku belum pernah ke Eropa, jadilah kami merencanakan untuk mengunjungi salah satu keluarga yang berada di Perancis. Dari Perancis ini, kami sempat jalan-jalan berkunjung ke beberapa negara lainnya. Nanti ya, kuceritakan di artikel lainnya (kalau sempat, eaaa).

 

Nah, selama berada di Eropa ini, yang sudah hampir 1 bulan, banyak hal yang aku observasi tentang negara, aturan-aturan dan penduduknya. Walau mungkin ini bukan valid observation, more to “my personal observation” bisa di percaya bisa enggak, tapi ini beberapa hal-hal yang menurutku kamu perlu tau sebelum menjejakkan kaki di benua Eropa ini, supaya enggak kaget.

 

  1. Disini serba On-Time

Ini sebenernya seru banget sebagai shock therapy buat orang Indonesia yang doyan ngaret. Di Eropa, semuanya serba on time. Bahkan, bila jadwal bus tertera, bus akan datang pukul13.17 – nah, bus tersebut pasti akan sampai jam 13.17 (kecuali kalau sedang ada strike ya, lagi sering terjadi bus strike di Perancis). Jadi kalau kamu udah beli tiket, bener-bener harus sampai sebelumnya, lebih baik datang lebih awal dan menunggu daripada harus beli tiket lagi (sayang duitnya).

Begitu juga janjian sama orang. Disini betul-betul harus on time. Kalau kamu telat, berarti kamu tidak menghargai waktu orang yang janjian sama kamu, dan itu dianggap tindakan yang sangat kasar.

Orang Eropa juga rata-rata sangat strict sama waktu dan janji temu. Pernah kami sedang di Belanda dan ada seorang teman yang juga tinggal di Belanda, aku sempat janjian sama dia, tapi karena dia sangat strict soal waktu dan kejelasan appointment, akhirnya janjian kami batal, daripada aku janji-janji tapi tidak bisa kutepati.

  1. Apa-apa mahal

Ini bener banget. Walau angka nominal harganya kecil kecil, macam 1 Euro, 2 Euro, 3 Euro, tetapi kalau di konversi ke Rupiah, harganya bisa melambung tinggi dan bikin kita jadi puyeng karena shock. Contohnya nih, waktu aku kebelet pipis dan lari-lari ke toilet umum, eh enggak taunya harus bayar 1,5 Euro. Karena terpaksa, bayar lah ya, tapi begitu kelar urusan, langsung otak mengkonversi ke Rupiah, kepalaku otomatis langsung sakit. Aduh, pipis aja mahal bener, musti bayar sekitar 25.000 rupiah. Mamaaa!

Transportasi pun mahal disini, mahal sekali malahan. Makan di restaurant itu kayanya either buat mereka yang emang punya budget, atau mau upload Instagram di tempat keren, atau emang mereka udah laper dan enggak ada kesempatan untuk masak.

Masak, memang cara yang tepat untuk mengurangi budget saat sedang bepergian di Eropa. Ada beberapa hal lainnya juga yang bisa dilakukan untuk saving budget, nanti ku kasih tau tips-tips nya ya.

Tenang, ini bukan aku yang masak, tapi kakakku, hahaha…
Lalu, dessertnya iniiii… Yummyyyy…
  1. Apa-apa dilakukan sendiri

Ini salah satu hal yang kusuka dari gaya hidup orang Eropa. Mereka sangat dewasa dan terbiasa melakukan apa-apa sendiri, karena hire tenaga orang lain akan sangat mahal – beda sekali dengan situasi di Indonesia, yang kebanyakan penduduk, sehingga kadang banyak kita lihat tempat-tempat kerja yang banyak pegawainya lagi duduk-duduk sambil What’s App-an aja.

Saat kami tiba dari Normandie (salah satu kota di Perancis), mobil sewaan harus kami kembalikan dalam keadaan bersih. Abang iparku mengajak kami ke salah satu tempat cuci mobil dan vakum. Kupikir akan ada yang mencucikan, ternyata, hanya tersedia beberapa mesin, yang akan aktif dan bisa digunakan jika kita masukan koin. Lalu abang iparku mengambil selang besar dan mulai menyemprotkan busa-busa pencuci sendirian (kita semua di dalam mobil dengan kaca ditutup rapat), setelah itu dia mengambil vakum dan kami keluar dari mobil, saat dia mevakum alas-alas kaki di tempat duduk kami.

Bersih memang merupakan hal lain yang kusuka disini. Jalanannya bersih. kita tidak boleh buang sampah sembarangan – walau kuakui, ada juga beberapa tempat yang ada sampah, kemungkinan sih itu gara-gara pendatang atau turis yang suka buang sampah sembarangan.

Bayar parkir, masukin barang-barang di kasir supermarket, buang sampah, apa-apa harus dilakukan sendiri, bahkan ku dengar, abang iparku juga memasang lantai kayu di rumah sendiri. Pantes ya, banyak orang bule bahagia bener tinggal di Bali karena banyak tenaga kerjanya dan apa-apa bisa dilayani oleh orang lain, berasa raja, hahaa.

 

  1. Taati rambu-rambu jalan

Ini penting banget. Apalagi jika kamu berencana untuk menyetir di Eropa. Kamu harus stick to the rules on the road. Enggak bisa kamu nyetir seenak-enaknya, setiap ada tanda papan nomor di pinggir jalan, itu berarti batas maksimal kecepatan yang diperbolehkan. Saat lampu merah pun, kamu harus menaatinya walau tidak ada mobil lain, atau literally jalanan sedang kosong. Banyak kamera di tiang-tiang di pinggir jalan, untuk mengecek apakah kamu melebihi batas yang ditetapkan, juga kamu strictly tidak boleh dalam keadaan mabuk saat sedang menyetir. Mereka biasanya tidak akan minum alkohol melebihi batas yang dibolehkan jika kemudian mereka harus menyetir, beberapa bahkan menolak alkohol sama sekali jika tahu dia akan menyetir.

Menyebrang di Brussels, Belgia.

Menyebrang pun begitu. Kamu harus lihat lampu tanda merah untuk penyebrang jalanan. Ada beberapa tiang lampu yang mempunyai tombol untuk kamu klik sehingga bisa menyebrang, tetapi ada juga yang tidak, namun kamu harus tetap menunggu sampai lampu menjadi hijau, baru bisa kamu menyebrang. Pernah aku ingin ke sebuah toko yang berada di sebelah kiri jalanku, tetapi aku harus menyebrang sebanyak 3 kali, dan menunggu dengan sabar di setiap lampu merah, hanya untuk ke toko yang letaknya 5 meter dariku.

  1. The jetlag is real

Beberapa orang mungkin tidak ngeh, atau mengabaikan Jetlag. Tapi memang betul, jetlag dan perbedaan waktu itu nyata mempengaruhi tubuh kamu. Awalnya saat aku tiba di Perancis, badanku capek sekali. Karena ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Perancis sebanyak 6 jam, juga karena otak kita sebagai orang Indonesia selalu berpikir matahari terbit pukul 6 pagi dan terbenam pukul 6 sore, jadi saat hari pukul 9 malam dan matahari masih bersinar terang, hal tersebut terasa aneh sekali dan saat gelap baru mulai pukul 10 malam, kita berpikir itu masih jam 6 sore, lalu tiba-tiba sudah pukul 12 malam, atau 1 pagi, badan tiba-tiba terasa capek sekali.

Saranku, untuk yang ingin traveling di Eropa, baik-baiklah sama diri sendiri saat hari pertama dan hari kedua, tidak perlu banyak aktifitas dan banyak minum air. Butuh beberapa hari sampai jetlag’s effect itu hilang dan kita bisa menyesuaikan diri dengan waktu di Eropa.

  1. The different temperature’s effects also real

Perbedaan cuaca itu beneran ada. Kami datang saat musim semi, ku pikir musim semi itu artinya cuaca akan panas, walau tidak sepanas musim panas. Namun ternyata cuaca terasa dingin menggigil, apalagi buat orang Indonesia yang selalu merasakan summer all year. Bawa kaus kaki dan sweater serta celana panjang piyama kalau kamu mau tidur. Walau di setiap rumah dan mobil mostly pakai heater, tapi tetap saja awal-awal penyesuaian kamu akan menggigil. Yang lucunya disini, kamu akan buru-buru masuk ke dalam pertokoan karena kamu tahu, disitu akan lebih hangat daripada di  luar. Di Indonesia, kita buru-buru masuk shopping mall karena tau disitu akan terasa lebih dingin daripada di luar, hehehe.

Lalu, bawalah body butter, karena menurutku body lotion kurang thick untuk mengatasi kulit yang tiba-tiba menjadi sangat-sangat kering. Kulit muka bisa mengelupas, bibir juga kering, sebel banget awal-awal, tapi setelah pakai body butter, kulit jadi mulai lembab lagi. Pakai juga moisturizer untuk wajah tidak terlalu kering dan pelembab bibir.

  1. Knowing language does matter

Karena dalam trip ini aku lama berada di Perancis, jadi perlu sekali sebetulnya tahu bahasa Perancis sedikit-sedikit (tapi sayangnya aku tidak bisa bahasa Perancis, hahaha). Apalagi kebanyakan orang Perancis tidak bisa bahasa Inggris.

Tetap sih harus pede saja untuk tetap melakukan transaksi belanja, misalnya, tetapi biasanya komunikasi yang dilakukan akan sangat-sangat minim.

Yang sebetulnya menarik tentang benua Eropa menurutku, adalah bedanya bahasa-bahasa di tiap negara. Saat kami di Perancis, kami mendengarkan orang Perancis berbicara dengan menggunakan bahasanya – orang Perancis juga senang banget bicara dengan bahasanya, walau mereka tahu kita tidak  paham sama sekali, beberapa kali aku ketemu orang Perancis yang terus-terusan ngomong sama aku, padahal aku tidak paham apa yang sedang dibicarakannya, akhirnya cuma bisa senyam-senyum saja deh -, lalu kami ke Italia dan melihat bahasa Italia dimana-mana. Lalu ke Belanda, yang juga bahasanya kusenangi, karena aku pernah belajar bahasa Belanda, jadi kata-katanya banyak yang terlihat familiar. Dan serunya lagi, di Belgia yang negaranya mengaplikasikan dua bahasa, bahasa Perancis dan bahasa Belanda, mereka betul-betul menulis dua bahasa di tanda-tanda jalan di pusat kota, agar penduduknya bisa mengerti, sedangkan di bagian negara Belgia yang mendekati Perancis, semuanya bertuliskan bahasa Perancis, dan yang mendekati Belanda, semuanya menggunakan bahasa Belanda. Wah, kalau jadi warga negaranya apa enggak ribet ya?

  1. Wine, Babi, Keju, banyak banget

Jangan heran kalau banyak babi di Eropa. Maksudku, makanan yang terbuat dari babi. Juga jangan heran melihat wine dimana-mana. Wine yang sangat mahal di Indonesia, di Perancis bisa cuma 2-4 Euro per botol.

Lalu soal babi, betul sekali, banyak terdapat produksi daging babi olahan. Jadi kalau makan babi itu haram buat kamu, coba deh pelajari apa itu babi dalam bahasa negara yang akan kamu datangi, coba buat catatan untuk “tidak pakai babi” dalam bahasa-bahasa tersebut. Atau kamu juga bisa ke restaurant-restaurant Asia, Moroko, Middle East yang menuliskan Halal. Kalau beli sesuatu di Supermarket, lihat-lihatlah packagingnya baik-baik. Di McDonalds pun, kulihat banyak produk mengandung babi. Kenapa ini kukasih tau, supaya kamu jangan kaget…

Soal keju, aduh, ini mah kesukaanku. Apalagi di Perancis, kejunya melimpah ruah, murah dan banyak bener macamnya. Targetku adalah makan keju setiap hari, jadi jangan kaget kalau pulang-pulang aku endut yaaa… hahaha.

  1. Bersiaplah tanpa nasi dan sambal

Beruntung sih aku, dalam perjalanan kali ini, aku tinggal di rumah kakak sendiri yang suka sekali memasak makanan Indonesia dan punya rice cooker! Yayyy! Bahkan kami berasa seperti di Indonesia saja kalau di rumahnya. Ada rendang, nasi liwet, kue putu ayu dan banyak lainnya. Tapiiii, ketika kami bepergian ke Italy selama seminggu, disitu saat kami kangen dengan nasi – bah, padahal baru seminggu saja ya.

Mostly produk yang akan kita dapatkan adalah berbasis roti-rotian, pasta atau apapun selain nasi. Betul di Italy ada Risotto, tetapi rasanya beda dengan nasi Indonesia. Rasa makanan barat bener-bener bisa tasteless deh, makanya kita musti bawa sambal kalau mau traveling kesini. Bawa aja yang banyak, daripada terjadi pertumpahan darah karena rebutan sambal sesama teman/saudara orang Indonesia. Abang iparku yang orang Perancis geleng-geleng kepala ketika kami menaruh sambal di makanan apapun yang kami makan, dari pizza, pasta, baquette, sup, apapun. Karena tanpa sambal, makan rasanya kurang pol! Ahem!

 

  1. Download Maps.me

Eropa itu benua besar. Setiap area negaranya akan terlihat perbedaannya. Kami terkagum-kagum melihat keindahan gaya Renaissance di bangunan-bangunan Paris yang terlihat megah, lalu kami terkagum-kagum ketika melewati rumah-rumah penduduk Tuscany di Italia yang terlihat simple namun colorful. Lalu dinding-dinding rumah penduduk di Belanda yang berwarna merah marun, hitam, coklat, bahkan hijau tua terlihat kontras dengan langit biru dan luasnya padang rerumputan hijau yang dijejali sapi-sapi hitam putih. Itu baru sebagian kecil yang kulihat di benua Eropa yang besar ini.

Terlihat berantakan namun indah sekali.. Ini di Cinqueterre, Italia 🙂

Karena Eropa itu besar, rasanya sulit mengeneralisakan apa-apa tentang Eropa. Yang paling penting saranku adalah mendownload peta setempat, bisa dengan Maps.me yang merupakan aplikasi map offline supaya kamu enggak nyasar saat sedang berjalan-jalan di kota-kota di Eropa. Enaknya berjalan-jalan disini, adalah pemetaan kota di Eropa sangat terstruktur dan jelas, sehingga informasi petanya bisa dipercaya. Selain dari itu, berjalan kaki adalah salah satu kebiasaan masyarakatnya, selain untuk cut of budget – juga mereka punya tempat berjalan kaki yang bagus dan layak sehingga membuat berjalan kaki menjadi menyenangkan dan mudah dilakukan.

 

Mungkin ini belum mencangkup semuanya, mungkin nanti kalau sedang iseng dan banyak inspirasi, aku akan menulis lagi. Untuk sekarang, bye bye dulu yaaa, aku mau makan kue putu ayu yang baru saja mateng.

Wait, am I in Europe or in Indonesia? LOL

 

Cheers,

Dea Sihotang

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s