Penjelajahan 9 Kota, 10 Hari di Vietnam – Hue dan Danang

Setelah berseru-seruan di kota Hoi An ditemani teman baru kami, An Nguyen, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Hue. Untuk mencapai Hue, kami memilih moda transportasi kereta api, karena memang sore itu sudah tidak ada bus yang menuju ke Hue. Pilihan lainnya adalah menyewa mobil pribadi untuk mengantarkan kami ke Hue. Namun karena kami budget traveler, saya dan Panda memilih untuk menggunakan kereta saja. Ini pun akan menjadi pengalaman pertama saya naik kereta di Vietnam. Hore!

Hue-and-Danang-Vietnam (8)An, teman baru saya dari Hoi An.

 

Memang untuk menuju Hue diperlukan sedikit effort lebih dari kota Hoi An. Oleh karena alasan itu, biasanya banyak wisatawan atau backpackers yang melewati kota Hue dan memilih untuk langsung naik kereta atau flight ke Hanoi setelah dari Hoi An. Namun saya kepengin banget pergi ke Hue. Pasalnya saya suka kota-kota tua. Dan Hue memiliki banyak sejarah. Tepatnya, Hue adalah kota kuburan. Tempat dimana makam para emperor Vietnam berada. Tapi jangan berpikir makam berarti hanya lahan perkuburan dengan batu nisan saja. Makam para kaisar ini bisa berbentuk banyak bangunan yang terletak di atas tanah yang luasnya berhektar-hektar!

Hue-and-Danang-Vietnam (13)Salah satu makam yang ada. Besar banget kan!  Udah kaya istana saja.

 

Hal lainnya yang membuat saya ingin sekali datang ke Hue karena terdapatnya patung-patung kuno tentara Vietnam, yang menurut saya menyerupai patung-patung Terracota yang terdapat di Shanxi, China. Walau tentunya berbeda, karena yang satu tentara Vietnam, yang satu tentara China. Tapi buat saya keren saja dan patut di lihat! Auranya mistis yang bikin penasaran! Selagi belum punya kesempatan untuk ke Shanxi, ya sudah puas-puasin rasa penasaran dengan visit para tentara kaisar yang berbentuk patung-patung ini.

Hue-and-Danang-Vietnam (12)Ini loh, bapak-bapak kece yang ingin saya liat.. Ternyata mereka pendek-pendek, hihihi.

 

Kami menginap di Sunny guest house malam itu. Tidak terlalu jauh dari tempat bus menurunkan penumpang. Setelah perjalanan yang melelahkan, rasanya senang sekali memiliki sebuah kamar private, dimana terdapat kamar mandi didalamnya dengan dua tempat tidur single. Langsung saja saya nyerusuk rebahan di kasur, dimana teman saya langsung membuka laptop dan skyping dengan suaminya. Teman saya, Panda, memang sedang in long distance marriageship dengan suaminya yang di Kanada. Awalnya saya agak jengah melihat mereka skype all the time, tapi akhirnya saya terbiasa dan emang paham betapa susahnya menjaga hubungan dan komunikasi saat terpisah jarak ratusan kilometer, kalau ga’ dijaga baik-baik bisa bablas ga’ saling omong-omongan lagi *eh jadi curhat.

 

Setelah berberes barang kami sebentar dan mandi, kami pun berjalan-jalan di kota Hue. Wah, saya langsung jatuh cinta dengan kota ini. Kota kecil namun rapi dan bersih. Panda, yang berasal dari Tay Ninh pun berkata bahwa orang-orang di kota Hue ini memiliki aksen bahasa Vietnam yang halus dibanding mereka yang di Saigon. Orang-orangnya pun ramah-ramah. Walau banyak bar dan pub yang buka malam hari, namun suasana kotanya tidak rusuh, cenderung akrab dan hangat. Sehingga tidak heran ketika kami bertemu seorang pemuda Perancis yang jatuh cinta dengan Hue dan memilih untuk tinggal dan bekerja di kota itu daripada di negaranya.

Hue-and-Danang-Vietnam (1)

Keesokan harinya, saya dan Panda terpaksa harus berpisah. Karena kami mengikuti tour yang berbeda. Lamanya durasi tour konvensional dengan rute para makam emperor itu tidak cocok dengan saya yang punya waktu terbatas karena akan langsung terbang ke Hanoi siang itu juga. Jadi untuk memaksimalkan waktu dan tujuan, saya pun memilih untuk menyewa ojek dan berkeliling dari satu makam ke makam lainnya. Sedang Panda, mengambil paket daily tour untuk mengunjungi makam-makam tersebut.

Hue-and-Danang-Vietnam (9)Adventure di mulai! Yayy yayyy yayyy!!

 

Ojek ini bukan sembarang ojek loh! Bapak yang mengendarai motornya adalah orang yang ramah dan selalu bertanya ke saya, “Are you happy?” Sebuah pertanyaan yang perlu di contoh rasanya untuk ditanyakan ke orang-orang dewasa ini. Sejujurnya selama perjalanan kami, saya selalu happy, tapi tidak mengurangi shock jantung saya, karena si bapak menyetir sambil menengok ke belakang terus dengan bertanya, “Are you happy?” Ok fine, saya teriak “I am happy! Just please drive carefully!” Saya worry berat karena di depan kami biasanya banyak bus dan mobil yang cukup kencang dan kebut-kebutan. “Relax, relax, we are happy,” seru si bapak lagi. Sayang udah bapak-bapak, kalau masih muda dan ganteng, sedikitnya ketika saya ketakutan, saya bisa pegangan sama dia kan? Hehe.

Hue-and-Danang-Vietnam (21)Gagah bener ya saya naik motor ini 😛 – Gaya doang kok..

 

Rute makam yang pertama saya kunjungi adalah Khai Dinh Tomb. Cukup mahal sih tiket masuk ke makam-makam ini, sekitar 55.000 VND, di kali saja tiga, karena ada tiga makam yang paling terkenal di Hue, yaitu Khai Dinh Tomb, Ming Mang Tomb dan Tu Duc Tomb. Masing-masing mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.

Hue-and-Danang-Vietnam (10)Khai Dinh Tomb dari depan.

 

Buat saya, Khai Dinh Tomb adalah makam yang memiliki bangunan terstylish. Areanya kecil, namun bangunannya memiliki detail craving yang tajam. Begitu masuk, saya langsung disambut sama patung-patung yang mirip Terracota Warrior tersebut. Yippiee! Saya hampir saja memeluk bapak-bapak patung karena kegirangan. Jujur loh, patung-patung ini serasa punya mata yang hidup, walau udah terlihat begitu tua dan kusam. Namun saya merasa mata mereka mengikuti gerak-gerik saya, apalagi ketika saya pakai timer dan iseng-iseng selfie. Mungkin mereka berpikir, “Siapa sih perempuan aneh ini, photo ga’ habis-habisnya?” Haha. Begitu melihat ke dalam makam, pantas saja makamnya begitu stylish dan detil. Si Kaisar pun menurut saya cukup stylish gayanya!

Hue-and-Danang-Vietnam (16) Hue-and-Danang-Vietnam (12) Hue-and-Danang-Vietnam (11) Hue-and-Danang-Vietnam (15)

Ini loh para pasukan yang kepingin banget saya lihat. Rada spooky ya?

Hue-and-Danang-Vietnam (20) Hue-and-Danang-Vietnam (19) Hue-and-Danang-Vietnam (18) Hue-and-Danang-Vietnam (17)Saya terkagum-kagum dengan detil interior makam sang Kaisar. Apik tenan!

Hue-and-Danang-Vietnam (14)Nah, ini Kaisar nya.. Stylish gini, pantes aja kuburannya pun kece…

 

Makam selanjutnya yang saya kunjungi adalah Ming Mang Tomb. Areanya cukup besar bila dibandingkan dengan makam Khai Dinh, memiliki bangunan pembuka, tengah dan penutup. Terdapat sebuah danau besar yang membuat suasana dalam Ming Mang Tomb terasa begitu tenang dan adem. Wah ternyata saat berjalan-jalan di Ming Mang, saya melihat sosok yang saya kenal. Panda beserta rombongan tournya sedang berada di tempat yang sama! Menang nampaknya kami berjodoh, hehe. Mereka baru saja memulai tour, sedangkan saya sudah selesai dari Khai Dinh.

Hue-and-Danang-Vietnam (22) Hue-and-Danang-Vietnam (25) Hue-and-Danang-Vietnam (24) Hue-and-Danang-Vietnam (23)Minh Mang Tomb.

Hue-and-Danang-Vietnam (26)

Saya dengan Panda, bertemu lagi secara tidak sengaja.

 

Dari keseluruh tomb yang saya kunjungi, favorit saya adalah makam Tu Duc, walau tidak terlalu picturesque macam di Khai Dinh. Tempat ini begitu luas sehingga cukup memakan tenaga untuk berjalan-jalan didalamnya, namun suasananya begitu tenang dan damai. Rasanya saya ingin duduk diam dan membaca buku di antara bangunan-bangunan tuanya (baca – makam). Di Tomb ini terdapat tidak hanya makam emperor, namun juga bangunan milik ratu dan makam ratunya.

Hue-and-Danang-Vietnam (28) Hue-and-Danang-Vietnam (29) Hue-and-Danang-Vietnam (30) Hue-and-Danang-Vietnam (31) Hue-and-Danang-Vietnam (27)Hue-and-Danang-Vietnam (33)Tu Duc tomb adalah makam yang paling luas di banding dua tomb lainnya.

 

Ada cerita lucu ketika saya sedang berjalan-jalan di makam Tu Duc. Entah karena memang areanya luas dan saya sudah capek sepagian jalan kaki. Tiba-tiba sendal saya copot dong! Gimana ini?! Mana saya sedang di tengah-tengah makam. Untuk menuju ke pintu keluar cukup jauh. Akhirnya saya melihat sebuah warung kopi. Saya pun membeli air mineral sambil berpikir bagaimana caranya supaya saya bisa kembali ke bapak tukang ojek yang menunggu saya di pintu keluar. Dengan malu-malu saya pun menceritakan tentang sendal saya yang copot ke mas-mas penjaga warung. Tiba-tiba dia minta sendal saya tersebut dan berusaha untuk mengikat sendal saya dengan banyak karet gelang! Ya ampuuun, baiknya. Saya pun langsung nambah beli es kopi sebagai tanda terima kasih, haha.

Hue-and-Danang-Vietnam (34)Mas-mas baik yang sedang mengikat sendal saya, haha!

 

Da Nang

Setelah pak ojek berhasil membujuk saya untuk tetap menggunakan jasanya sampai airport di Da Nang, akhirnya kami pun bersiap-siap menuju Da Nang, dengan sebelumnya kami pergi ke tempat istrinya berjualan untuk menukar dollar yang saya punya dengan Dong. Itu karena bank tidak buka saat weekend sehingga saya tidak punya Dong lagi. ATM sendiri susah ditemukan saat itu. Untung si bapak berbaik hati mau exchange money dengan saya. Sambil menunggu sang istri, dia pun menraktir saya mangga. Duh baiknya!

Hue-and-Danang-Vietnam (2)Saya dan bapak ojek, “Are you happy?” – Iya saya happy, sambil ga lupa selfie.. hehe.

 

Untung saja motor si bapak adalah motor gede yang cukup nyaman untuk duduk berjam-jam. Perjalanan dari Hue ke Da Nang tidak bisa dibilang sebentar. Walau pemandangan sepanjang jalan sangatlah menarik. Kami harus melewati pegunungan Marble Mountain, di bilang Marble karena struktur bebatuannya memiliki gradasi seperti batu marble. Kami naik sampai puncak kemudian turun lagi. Whooo! Hebat banget motor ini kuat sampai atas. Walau saya cukup kedinginan ketika kita berkendara di puncak gunung!

Hue-and-Danang-Vietnam (3) Hue-and-Danang-Vietnam (4)

Pemandangan yang kami lihat saat menuju Da Nang.

 

Ketika kami sampai di sebuah benteng tentara Amerika, yang merupakan salah satu destinasi wisata juga, si bapak beristirahat dimana saya memilih untuk berjalan-jalan sebentar. Beberapa saat kemudian, saya menyusul bapak ke warung kopi yang ternyata juga menjual gelang-gelang dan kalung-kalung, suvenir dari Vietnam. Si ibu berhasil membujuk saya untuk membeli sebuah gelang ketika dia menggunakan kalimat maut, “Wah kamu terlihat lebih jauh lebih muda dari umur kamu yang sebenarnya,” seru si ibu ketika dia nanya umur saya dan saya jawab dengan jujur, hihi. Bertanya tentang umur nampaknya merupakan hal yang lumrah di Vietnam, karena saya sering banget dapat pertanyaan macam begini.

Hue-and-Danang-Vietnam (5) Hue-and-Danang-Vietnam (6)Benteng bekas tentara Amerika yang sudah ditinggalkan dan tidak digunakan lagi.

Hue-and-Danang-Vietnam (7)Teman baru yang langsung sok akrab. Lihat betapa lelahnya wajah saya, tapi tetap happy kan? 😉

 

Sesampainya kami di airport, kami pun berpisah setelah saya berterima kasih dengan si bapak dan berpesan agar dia hati-hati saat kembali ke Hue. Dengan riangnya dia bertanya“Are you happy?” Hahaha, saya tertawa mendengarnya, lalu memberikan jempol saya, “Yes sir, I am happy!”

Hue-and-Danang-Vietnam (32)Kamu juga mau bertemu saya? Yuks datang ke Hue..

 

Ok Hanoi, wait for me!

Cheers,
Dea Sihotang

Disclaimer

 

 

Advertisements

7 comments

  1. Dea, terima Kasih banyak untuk informasi perjalanan di Vietnam yang sangat bags ini.
    Saat ini saya Dan suami sedang berlibur di Vietnam Ho Chi Minh Dan sekitar Da Nang, Kita juga akan jalan jalan di daerah lainnya seperti apa yang Dea Sudan tulis disini.

    Sekali lagi terima Kasih untuk informasinya

    Paul & Dina From Bali

    Liked by 1 person

    • Hai Paul dan Dina, rasanya telat banget ya komen saya ini.. Tapi terima kasih sekali ya sudah membaca blog saya 🙂 Gimana liburannya di Vietnam? Beberapa waktu belakangan ini saya juga lagi sibuk traveling, jadi baru bisa berbenah dan baca-baca komen sekarang ini… Maafkeuuunnnn.. Salam hangat, Dea

      Like

  2. Hi mbak dea, itu ojek bapaknya di bayar berapa ya? terus ketemu bapaknya di mana? ada namanyakah? Aku minggu depan ke Vietnam, dari hanoi cuma sempet mampir Hue beberapa jam sebelum ke Hoi An dan nginap di sana, sejauh ini saya belum menemukan transport yang cocok buat berangkat dari Hue siang agak sorean. banyak gak sih ojek yang kayak gitu? Aku googling2 banyaknya motorbike tour yang lumayan mahal dan waktunya gak fleksibel. Makasih sebelumnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s